Dosen Tamu STFI Sadra Sampaikan Presentasi dalam Seminar Internasional UIN Syarif Hidayatullah

IMG_1336Jakarta 03/03/2014. Dosen Tamu STFI Sadra Prof. Dr. Muhammad Abd. Khodai berkesempatan memberikan materi dalam seminar internasional yang bertajuk “Perkembangan Filsafat di Iran” yang diseleggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra dan ICAS-UP Jakarta pada hari Selasa 4 Maret 2014. Hadir sebagai peserta dalam seminar ini beberapa dosen pengajar dan ratusan Mahasiswa di perguruan tinggi islam tersebut.

Prof. Dr. Muhammad Abd. Khodai mengulas kilas balik perjalana filsafat di Iran dengan menegaskan keterikatan filsafat islam itu sendiri secara historis kepada khazanah pengetahuan di era sebelumnya yakni pada masa para filosof  linuhung seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Islam dalam pandangan para ilmuwan di Iran,  menempatkan ilmu dan pengetahuan dalam kedudukan yang tinggi. Dalam peradaban umat Islam, ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang penting yaitu sebagai katalisator pembangkit yang mengubah kehidupan umat manusia menjadi lebih baik. Dan sumber dari seluruh pengetahuan ini adalah Filsafat.

Prof. Dr Murtadha al-Muthahari mengatakan, “Saham Iran dalam filsafat Islam lebih besar daripada dalam bidang-bidang ilmu yang lain.” Hal ini beliau buktikan dengan usahanya membuat daftar bibliografis yang berisi paparan tentang thabaqat pada filsuf pada masa Islam dari periode pertama hingga sekarang. Ini adalah usaha pertama, karena kalau kita telah mengenal banyak buku yang menceritakan thabaqat fuqaha, nyaris belum ada buku dalam bidang filsafat. Beliau mengatakan, “Meniliti perkembangan filsafat secara kronologis tidaklah mudah. Tapi kita dapat menyebutkan thabaqat filsuf berdasarkan hubungan guru-murid serta orang-orang sezaman bagi masing-masing thabaqah, baik berperan dalam pengajaran bagi generasi setelahnya atau tidak, tapi sekedar menjadi murid bagi orang-orang sebelum mereka atau sekadar sezaman.”IMG_1378

Perkembagan filsafat di kalangan islam telah banyak disebutkan dalam buku-buku sejarah berikut dengan kisah kemandekannya pasca Ibnu Rusyd. Kematian Ibnu Rusyd (Averroes) secara efektif menandai akhir dari suatu disiplin tertentu dari filsafat Islam biasanya disebut Sekolah Arab Peripatetik , dan aktivitas filosofis menurun secara signifikan di negara-negara Islam Barat, yaitu di Spanyol Islam dan Afrika Utara, namun di Iran, sejarah becerita lain. Setelah Ibn Rusyd, muncullah beberapa filosof yang menelurkan pemikiran-pemikiranya yang brilian dalam bidang filsfat. Kita bisa menyebutkan hanya beberapa, seperti yang didirikan oleh Ibn Arabi dan Mulla Sadra . Sekolah-sekolah baru ini sangat penting, karena mereka masih aktif dalam dunia Islam. Yang paling penting di antara mereka adalah Hikmah Pencerahan (Hikmat al-Isyraq) dan Transenden Teosofi (Hikmat Muta’aliah).

Di akhir Dinasti Qajar dan memasuki Dinasti Pahlevi berkuasa, kondisi intelektual di Iran lesu dari pemikIran filsafat dan ‘Irfan,  Kondisi ini disikapi secara serius oleh ‘Allamah Thabathaba’i. Ia berjuang keras mengembalikan filsafat kepada singgasananya. Dengan segala kegigihannya, Allamah Thabthabai berhasil membuktikan pentingnya kembali di ajarkan filsafat di hauzah-hauzah ilmiah. Bahkan, kegigihannya mengajarkan filsafat ini, menjadi alasan kuat mengapa Allamah Thabathabi tidak menjadi marja’.IMG_1383

Buah dari usaha tersebut adalah sederetan tokoh kaliber dunia yang diakui seperti Ayatullah Ali Khamene’i, Ayatullah Murtadha Muthahhari, Ayatullah Behesyti, Ayatullah Behjat, Ayatullah Montazeri, Ayatullah Ja’far Subhani, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi, Ayatullah Jalaluddin Asytiyani, Ayatullah Mehdi Ha’eri Yazdi, Ayatullah Taqi Misbah Yazdi, Ayatullah Fadhel Lankarani, Ayatullah Musawi Ardabeli, Ayatullah Ibrahim Amini, Ayatullah Hasan Zadeh Amoli, Ayatullah Jawadi Amoli, dan banyak lagi lainya. Mereka inilah yang hingga saat ini menjadi pewaris tradisi keilmuan di Iran. IMG_1350

Menariknya,  kekayaan tradisi keilmuan Iran tidak alergi untuk berinteraksi dengan  pemikiran-pemikiran komparatif ilmu-ilmu modern dan filsafat Barat. Materialisme, eksistensialisme, marxisme, positvisme, dan beberapa aliran pemikIran Barat lainnya mulai diulas dan dikomentari serta dikritisi oleh para mullah ini. Sehingga tidaklah menjadi asing di tanah Iran untuk mengutarakan pikiran-pikiran seperti Sartre, Immanuel Kant, Descartes, Charles Darwin, Betrand Russel, Thomas Aquinas, Fransisco Bacon, bahkan Karl Marx atau Nitszhe, dan lainnya. Dengan interaksi yang sangat dini dengan pemikiran-pemikiran barat inilah para filosof Iran mendapatkan peluang untuk menjaga kelestarian kajian filsafat sebagai basis dari seluruh pengetahuan.

 

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

STAI SADRA
TUTUP