Mendaras Akhlak (Kuliah ke-3)

Moral yang baik 

Kita, akan meneruskan pembicaraan kita tentang empat moral pertama, ada empat moral utama; asaja’a, al-Ifah, al-Adalah, ditulis oleh Ibnu Maskawai dan disini kita akan membicarakan tentang al-Jahi. Saya mempunyai pertanyaan pada anda? Anda yakin Tuhan Maha Melihat, kalau Anda melakukan kesalahan apa pengaruh pengetahuan Anda dengan perbuatan maksiat Anda? Pengaruh dari perbuatan buruk Saya, “apa pengaruh perbuatan maksiat Anda bagi pengetahuan Anda”, sebab korupsi enak, zinah enak, kalau bicara enak, ya enak. Di waktu pengetahuan Anda, Tuhan melihat Anda, sejauh mana pengaruhnya? Maksiat dilakukan tetapi Tuhan tahu, sejauh mana kok masih bisa melakukan, sejauh mana pengaruhnya?   Bagi Saya saat melakukan kesalahan, Saya melihat lagi bahwa Tuhan Maha Pengampun, pasti akan mengampuni, pertanyaannya adalah sejauh mana pengetahuan Anda terhadap maksiat yang Anda lakukan itu?  Seperti jangan mencuri karena Allah Maha Tahu, dia tahu bahwa Tuhan Maha Tahu, tetapi tetap saja dia mencuri, dia lebih menuhankan Satpam, realitanya seperti itu kan? Ternyata pengetahuan tidak mencegah seseorang untuk tidak berbuat kemaksiatan… Ilmu dalam artian ilmu yang diperoleh dari logika dan medianya adalah kita, kalau Saya tahu ini adalah warna biru Saya katakana biru, seandainya Anda tahu dan pengetahuan yang Anda peroleh dari indera Saya bilang pada Anda “ini warna hitam” percaya tidak? Bagaimana kalau Saya kasih uang satu Miliar, anak Anda Saya sekolahkan, Saya kasih rumah asalkan Anda harus mengatakan seperti yang Saya katakan “ini warna hitam”.

Berapa banyak ilmuan sebagai alat penguasa, untuk mengatakan ini benar sedangkan ilmunya mengatakan tidak benar. Kenapa ada suasana yang paradox antara orang dan hatinya? Karena, ilmu sebagai media pembanding, ternyata ilmu bukan moral yang utama, yang moral utama adalah hati, wamay hikmatil hikmata fakod utiya kayron kasiron: dan barang siapa yang mendapatkan hikmah, maka dia telah mendapatkan kebaikan yang luar biasa, Allah tidak mengatakan: “wa may hikmatil hukmata”. Allah memberikan kepada Nabi disebut dengan hukman wal-Ilman, baik disini saya akan bertanya apa yang terjadi pada banyak orang kita rasakan semua. Banyak perbuatan kita yang menyalahi dari sisi kebenaran, ‘apa yang kita tahu karena banyak unsur, entah karena unsur uang, unsur calon istri, dan macam-macam’. Kadang-kadang seorang mahasiswa harus menjawab sebuah pertanyaan dosenya agar mendapatkan nilai yang bagus, padahal dia tahu jawabannya tidak baik, dan nilai merupakan kebenaran bagi mahasiswa. Ukuran kebenaran adalah nilai, baik ilmu adalah medianya akal kala ilmu melahirkan sebuah kesadaran, maka kesadaran yang dibangun atas dasar ilmu akan melahirkan hikmah, kesadaran sendiri medianya hati. Hikmah berasal dari kata-kata tiga huruf ha, kaf, dan mim dari kata-kata sulahi lahir banyak istilah termasuk didalamnya kata hukum.  Hukum adalah aturan-aturan yang mengikat, orang yang memutuskan sesuatu dan keputusannya disebut dengan mengikat dan yang mengikat disebut dengan hakim. Kalau tidak mengikat maka disebutnya bukan hakim, yang namanya satu tempat dimana proses suatu hukum didalamnya ada jaksa, pengacara, dan macam-macam, semua yang berjalan disitu berjalan dengan aturan-aturan dan semuanya mengikat.

Hikmah adalah sebuah kesadaran yang berasaskan pengetahuan yang mengikat bagi yang memilikinya. Kala pengetahuan yang Anda peroleh dari logika, namun tidak tunduk dengan kebenaran apalagi tidak Anda amalkan, maka pengetahuan Anda tidak mempunyai pengaruh banyak, dan Anda tahu bahwa Tuhan ada tetapi Anda tidak menyakininya. Itulah bedanya ilmu dan hikmah, banyak yang memberikan pengertian: “ada yang mengatakan hikmah dalam filsafat” dan kalau kita merujuk pada perkataan Imam Syafe’i “ilmu yang mampuh di anugerahkan”, bahkan beliau pernah mengatakan dalam sebuah syair “aku mengeluh pada guruku Waqti: “betapa burukya hafalanku”, maka dia memberitahu kepadaku agar aku meninggalkan kemaksiatan” dia juga mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya, ilmu juga tidak diberikan kepada orang-orang yang berbuat maksiat. Ilmu terbagi dalam dua katagori; ada yang diusahakan dan ada yang dianugerahkan (ilmu husuli dan ilmu huduri), dan hikmah termasuk kedalam ilmu yang dianugerahkan. Orang tidak akan mendapatkan ilmu yang dianugerahkan tanpa ada ilmu yang diusahakan, maksudnya seperti kita Pesantren “pada waktu keluar pondok, kita kembali lagi pada semula atau awal sebelum pesantren, apa yang dia dapatkan hilang tetapi sebenarnya tidak begitu, waktu dia keluar di pondok dia tidak belajar lagi. Makanya, apa yang sudah didapat hilang lagi, karena dia hanya makan, minum, dan tidur, seandainya di rumah dia mengulang pelajaran di Pondok isyallah pelajarannya tidak akan hilang semua. Orang kafir saja kalau memang konsennya pada al-Quran dia hafal, walaupun maksiat, berzina dimana-mana, karena yang dia hafal adalah ilmu yang diusahakan bukan dianugerahkan. Tetapi, perlu diingat ilmu yang dianugerahkan adalah anugerah oleh Allah tidak mungkin ada pada orang kecuali memang mengamalkan ilmu, ikhlas karena Allah, dan “pertanyaannya adalah sudahkah ilmu kita berubah menjadi hikmah dan bagaimana caranya”?

Tanya Jawab

Pertanyaan:

  1.  Tanda-tanda apa kalau ilmu kita sudah menjadi hikmah?

Jawaban:

  1. Orang yang melakukan tidak pernah tahu, seorang Muslim kewajibannya belajar dan mengamalkan, biarlah Tuhan yang merubahnya karena memang bukan wilayah kita, kita terlalu sibuk dengan urusan Tuhan biarlah Tuhan yang mengaturnya. itu semua urusan Tuhan, kewajiban kita hanya mentaati, belajar, ikhlas, dan berusaha, biarlah Tuhan yang mengubahnya  jangan khawatir mesin Allah tidak pernah rusak, tidak perlu teknisi dan mekanik, semuanya akan berjalan dengan sendirinya tidak repot yang repot seperti manusia, yang paling terpenting adalah menumbuhkan kesadaran, dan “pertanyaanya adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran”? Segala sesuatu kalau sudah sadar, kedepannya akan enak, dan segala sesuatu akan enak apabila kita menikmatinya.

 

Ronggowarsito seorang pujangga hebat mengatakan: “sing penting roso”, naik sepedah butut jalan-jalan di Kota Solo cari soto segar yang harganya Rp. 5000 sambil ngebonceng istri yang sederhana, tetapi kalau rasanya dibayangan enaknya luar biasa, sing penting roso. Belum tentu teman Anda yang memakai mobil dan dasi mewah belum tentu dia merasakan nikmat, oleh karena itu orang hidup kata orang Jawa salah sini nawang (melihat sini sini seneng), disyukuri saja, kalau tidak disyukuri bisa-bisa disyukurin.

Setiap sifat selalu mengalami namanya al-Ifrod wa tafrid selalu ekstrim keatas dan kebawah, kalau keatas tidak baik. Contohnya, orang ini tidak pintar, pada dasarnya bodoh sekali, cuman dirinya merasa pintar, hebat, dan orang ini biasa disebut dengan orang yang tidak tahu tetapi merasa tahu. Semua masalah ada jawabannya, “dasarnya apa”? Hanya dia yang tahu, sampai-sampai dirinya sama seperti Tuhan “saya adalah sumber kebenaran” ‘kira-kira ada tidak orang seperti itu’? Sangat banyak sekali, ada yang A, B, C, banyak sekali, dan bodohnya lagi ada yang mengikuti. Kalau ditanya kenapa kamu melakukan alasan seperti itu? Mohon maaf, derajat Anda belum sampai pada wilayah seperti itu, padahal sebelumnya dia tidak pernah kelihatan, dan sumbernya pun tidak pernah kelihatan.  Dan pendekatan untuk mendapatkan kebenaran ini bukan bersifat normatif dan logis; keren, alat kita yang paling hebat, alat yang paling hebat untuk mendapatkan kebenaran adalah intuitif. Sama halnya jika dikaitkan dengan sekolah, sekolah pun berbicaranya bersifat imajiner, contohnya pak Karno sudah mati tetapi saya bisa berbicara pada dia atau saya mendapatkan wangsit dari pak Karno, katanya: “Indonesia mempunyai masalah besar dan saya mendapatkan wangsit dari pak Karno, Rasul, dan lain-lain. Ditengah-tengah para ahli hadits bingung untuk mentakdis hadits tersebut, hukum rijali ini begini, begitu, dan semua orang sibuk dimana-mana untuk mentakdis hal tersebut, kalau seperti itu tidak perlu sekolah, cukup dengan duduk manis, “hebatkan”? Mencari tempat bagus dengan berbagai kebohongan dan ilmunya (wangsit), kadang-kadang kebenaran imajiner dibukukan semacam kebenaran wahyu… Dia mengaku Rasul, tetapi tidak berani kalau ditangkap polisi, kalau dia Rasul asli seharusnya dia tidak takut ditangkap polisi, karena dia Rasul palsu makanya dia takut ditangkap.

Kembali pada pembahasan kita tentang bodoh (jahl), bodoh mengandung arti sangat malas dan bodoh (jahl) pun dibagi menjadi dua bagian; jahl basith dan murokab, dan mungkin jahl murokab sampai pada tingkat yang sudah dibicarakan tadi, orang bodoh tetapi tidak sadar bahwa dirinya bodoh. Apabila kita berbicara dengan orang bodoh jangan terlalu dalam-dalam, tidak perlu ada diskusi-diskusi, karena orang tersebut malas mendengarkan apa yang diucapkan oleh kita. Kita hendaknya jangan seperti air, bahkan ada puisi “hidupku seperti air” berbicara sana-sini tidak pernah dipikirkan lagi. Menurut Imam Ali, orang seperti itu selalu membangun daya tarik agar supaya orang senang pada dia”, orang yang tidak mempunyai kepribadian disini senang, disana senang, dimana-mana senang, semuanya senang. Semestinya manusia tidak, dalam ucapan Sayid Murthadha Muthahari: “seorang pemimpin harus berada antara tarikan dan sodokan”, Anda harus berbicara supaya orang lain tertarik pada Anda, tetapi suatu saat Anda harus berani mengatakan sesuatu yang orang lain yang tidak pernah disukainya dalam arti kebenaran, dan itu baik bagi orang yang bersangkutan. Pernyataan orang bodoh tadi mengingatkan kita pada cerita Imam Ali dan orang-orang bodoh, “suatu hari ada sekumpulan orang bodoh melihat Imam Ali solat, orang bodoh pun solat dibelakang Imam Ali ingin menunjukakkan kalau mereka mengikuti Imam Ali dan di waktu yang sama orang bodoh tersebut makan bersama Muawiyah, karena makanannya enak-enak semua.

Semuanya hidup mencari kesenangan, bukan proses mencari kebenaran, dan orang seperti ini adalah orang yang jahil murokab, dan kebodohannya sudah mempunyai pengaruh atau merusak orang lain. Karena, dia sudah mengganggu, merusak orang lain, dan termasuk semua yang dia lakukan adalah kebodohan, dan kebodohannya bukan hanya untuk dirinya, tetapi sudah merusak orang lain, mempengaruhi orang lain atau membuat orang lain bodoh. Dalam perkataan pun dikatakan khorojil umur ausad: sebaik-baiknya urusan adalah ditengah-tengah tidak nifak dan tafrid, dan ditengah-tengahnya adalah hikma. Perkataan ini terkait dengan perbuatan akal, dan hikmah terkait dengan perbuatan akal sekaligus terkait dengan perbuatan lain. Apabila yang dominan akal, didalam dirinya tidak ada hikmah berarti semua perbuatannya rusak… Kalau bentuk perbuatan Anda tahsih lihat dahulu kekuatannya kira-kira dimana masalahnya, apabila permasalahannya tahu baru diperbaiki kekuatannya. Kan, banyak orang konsultasi bawa hadits dan ayat, padahal dia tidak tahu duduk permasalahannya bagaimana, tiba-tiba memberi ayat dan hadits─orang yang diberi nasehatnya belum sadar, belum insyaf masih rusak, mau berbicara berkali-kali juga tetap dia masih rusak, dan permasalahny yang rusak adalah kekuatan internal yang ada pada manusia. Makanya, kita berusaha supaya ilmu kita menjadi hikmah dengan memperbaiki ilmu yang ada pada diri kita dengan cara dipelajari berulang-ulang sehingga menjadi malakah pada diri kita.

Kemudian setelah berbicara hikmah yang ada pada diri kita, sekarang kita akan berbicara tentang saja’ah, “apa itu saja’ah”? Sebelum menjawab pengertian saja`ah ada cerita yang terkait dengan saja`ah: “ada orang laki-laki yang menantang lawannya”, kemudian dia mengatakan tidak maco apabila tidak menerima tantangan darinya. Akhirnya, dia datang dan menerima tantangan dan dia berkata: “siapa namanya Joni”, dan sampai sana teman-teman yang menantanginya banyak dan dia panas. Karena dia panas dan Jono ingin menunjukan bahwa dia maco, laki-laki yang tidak bisa diremehkan maka bertikailah Jono dan lawan yang mengajak dia berkelahi, dan akhirnya Jono babak belur dan meninggal karena dikeroyok banyak orang. Dia hanya menjadi Samson satu menit, baru mengangkat tangan sudah roboh duluan (mati) atau ada cerita lain “ada seorang bawa mobil ditengah jalan, karena melihat banyak kawannya, dia ingin menunjukan bahwa dirinya hebat, “akhirnya apa yang terjadi”? Bukan mobil dia yang melesat, tetapi nyawanya yang melesat seketika.

Berlanjut dari itu, apa yang dikatakan dengan suja’, kira-kira banyak tidak orang yang seperti itu? Kalau preman yang melakukannya masih mending, tetapi kalau Anda yang melakukannya tidak pantas. Sebelum kita mengartikan saja’ah, kita lihat saja’ah dalam artian liyar disebut dengan tahawur, dan tahawur dalam bahasa Jawanya ngawur (ngaco), karena keberanian “disalurkan tanpa menggunakan perbuatan akal”. Contohnya, apa yang terjadi pada anak buah Saya, Saya akan bertanggungjawab tetapi kalau besok dia mengundurkan diri lebih bagus. Dan kalau yang disebutkan tadi hanyalah statement-statement politik yang tidak baik, memang apapun yang dilakukan anak buah adalah tanggungjawab bosnya secara moral, “kalau seperti itu bagus tetapi bagaimana model bertanggung jawabnya”? Nah, banyak orang menerjemahkan tahawur dengan saja’ah “berani” kulil hak walau kana muron. Makanya, Amar bin Yasir ra ‘kala yang bersangkutan diancam oleh tuannya Umayah bin Kholaf untuk mengatakan Tuhan lebih dari satu, mencaci maki Nabi Muhammad, dia lakukan. Karena, dia tahu pasukan Nabi masih membutuhkan anak-anak muda seperti dia dan hatinya tetap Islam dan mencintai Nabi, itu merupakan sebuah ungkapan yang sangat bersifat diplomatis yang dalam bahasa agama disebut ‘takiyah’.

Takiyah adalah rahmat Allah yang diberikan kepada hambanya, tetapi dengan tujuan bukan untuk keuntungan dirinya, akan tetapi untuk keuntungan yang lebih besar. Kalau keuntungan untuk dirinya, selamat untuk dirinya saja agar dia mendapatkan sesuatu, tidak untuk bagi orang lain, agama, dan lain sebagainya, itu namanya kemunafikan. Orang yang mempercayai ‘takiya’ atau tidak, tetap dalam hidupnya dia melakukan takiyah, karena takiyah merupakan keniscayaan ‘sesuatu yang ada dan tidak bisa dihilangkan’, seperti conto hantara ayah dan ibu berhubungan badan di kamar, anak kecil tanya atau mungkin dia menyaksikannya, karena kecerobohan orang tuanya ‘apa jawaban seorang ibu dan bapa? Pasti mereka menafikan kebenaran yang anaknya lihat dengan berbagai macam alasan, untuk kebaikan lebih besar bukan untuk mereka, tetapi untuk si anak. Agama apapun dia, aliran apapun dia, tidak perlu ditanya-tanyakan bukan agama Islam pun tetap melakukan itu, kembali pada pembahasan kita tentang masalah tahawur ini. Banyak orang yang menterjemahkan tahawur dengan saja’ah sama, dalam perkataan Amar bin Yasir mengatakan dan kembali pada Nabi SAW, mengatakan: “kholaktu” aku binasa ya Rasulullah, turunlah ayat tetapi saya lupa surat keberapa ‘ada di antara sahabat-sahabat Nabi yang mengatakan kalimat kekufuran dengan jelas tetapi hatinya wa kolbuhu mutmainun bil iman tetap mantap dengan keimanannya,’ itulah bedanya antara yang munafik dan bukan.

Orang nifak tidak beriman tujuan menyebarkan kebohongan, dia berpura-pura, itu untuk apa? Untuk terpecahnya umat Islam dan lain sebagainya… Saya ingin hidup di dunia tanpa ‘takiyah,’ pasti kita akan menjadi orang bebas, enak sekali berbicara apa adanya, melakukan apa adanya, asyik sekali. Nanti, di surga takiyah hukumnya haram, permasalahannya di surga tidak ada ‘takiyah’, setelah kita tarik bahwa takiyah bukan khas dari satu mazhab saja melainkan sebuah keniscayaan.

Saja’ah sumbernya pada kekuatan-kekuatan emosi, kalau tahawur (ngawur) dibiarkan, tidak baik untuk dirinya dan lingkungannya. Tetapi, kalau dimatikan akan lahir al-Jubn (pengecut), perbedaan nifak dan jubn adalah kalau nifak dia licik, tetapi kalau jubn dia tidak licik, dan al-Jubun tidak pernah menghadapi masalah, hidupnya hanya menghindar dari masalah, padahal masalah kalau makin lama-makin dihindari bukan makin selesai tetapi makin besar. Hidup ini adalah perjalanan maka berjalan saja sesuai yang ada, hadapilah dengan semua potensi yang sudah Anda miliki, hadapi saja semuanya kata Iwan Fals ‘apa saja itu dihadapin’ kalau salah mohon maaf, dan kita perbaiki, kan begitu enakkan? Jadi, orang kok repot, karena memang kita mempunyai keberanian yang menakutkan, dia anggap hidup menakutkan, ketakutan selalu membayangi hidupnya padahal takut direalitasnya tidak real (nyata). Cuman, karena kita bayangannya luar biasa, akhirnya menjadi sangat besar, orang yang selalu menghindari masalah hidupnya makin lama-makin takut, apalagi kalau dia mempunyai hutang, orang mempunyai hutang wajar tetapi wajib juga bayar pada waktunya. Telephon orang yang memberikan hutang dan bertemu langsung bayar, kalau tidak bisa bayar berbicara dengan jujur, minta waktu, kalau yang punya marah ‘wajar dia marah’, tidak salah dia marah, dan tidak salah juga yang punya hutang minta maaf. Berarti kita berbicara apa adanya dengan jujur, jelas, dan membuat reschudeul pembayaran, dan ini merupakan satu contoh, contoh itu banyak bahkan jutaan.

Jubn pada dasarnya selalu menghindar pada semua masalah, disatu kehidupan yang dikatakan sebagai rumah masalah, dunia ini dunia adalah masalah, kita jangan sekali-kali mengangkat tangan ‘ya Allah sepikan hidup saya dari masalah’ itu undrior─yang paling baik adalah “Allahuma afrig `alayna sobron” kita sabar dalam menghadapi masalah. Menurut ahli sosilogi ‘sebuah bangsa yang hebat adalah bangsa yang penuh dengan masalah, tetapi sekaligus mempunyai kemampuan untuk menghadapi masalah’ “siapa bangsa yang pertama kali mempunyai kemampuan untuk menghindari negerinya dari banjir”? Belanda, karena negerinya di bawah laut, kemudian menemukan solusinya, sedangkan kita negerinya tidak di bawah laut, tetapi bajir terus.

Mana negeri pertama kali dikenal sejarah yang ahli dibidang irigasi? Mesir dan negeri itu sekarang mangganya tidak ada musimnya (panen terus), dulu jamannya Cleopatra setiap hari dan setiap tahun mnegorbankan wanita-wanita cantik, dan Cleopatra tidak adil dia paling cantik mestinya dia yang dikorbankan. Sehingga setiap orang yang mempunyai anak cantik tidak bersyukur, karena anaknya akan dikorbankan, tetapi kalau anaknya jelek orang yang memiliki anak tersebut senang sampai mereka berpikir dan bertemu jalan, sekarang luar biasa sungai Nil sekarang menjadi anak sungai yang hebat, setiap musim Mesir tidak mengalami kekeringan. Bangsa-bangsa seperti itu yang menjadi contoh atau panutan, banyak anak-anak putra Indonesia yang hebat-hebat, permasalahannya kelulusan ITB dan IPB hitungannya bagus-bagus mengalahkan kalkulator, ada kalkulator diluar 1+1 = 1,000,000 itu yang ngegerogotin, makarab, jahlul murokab. Nah, ini disebut dengan jubn, di antara tahawur dan jubun, yang namanya saja’ah? Seandainya Saya bawa mobil di jalan dan dijahili seseorang, melihat preman berkumpul semua dan mengganggu Saya. Maka, Saya tidak boleh menghindar tetap kobil, Saya jalan dan Saya datang ke kantor polisi menyelesaikan masalah itu, disana ada preman dan Saya minta begini-begini, iya tidak? Kalau tidak bisa Saya menulis dan terus berusaha itu yang namanya keberanian, kekuatan akal berfungsi dengan baik, mengendalikan emosi dengan bagus, hingga melahirkan langkah-langkah yang cerdas dalam menghadapi berbagai masalah, itu adalah pemberani. Makanya, banyak di TV berbicara dengan ngotot, kalau kaya begitu itu dinamakannya belum tentu pemberani, banyak pemberani-pemberani yang tidak kelihatan di negeri ini─yang masih menjadikan adanya kebaikan.

Pemberani tidak harus ngotot, terkadang orang ceramah ‘kal asad ala mimbar’, anak pondok bisanya begitu, begitu melihat orang laur biasa ‘singa’, saya lebih setujuhnya bukan ‘asad’ tetapi ‘natu’ no action talking only ‘berbicara saja yang keras-keras’, terkadang orang berbicara pelan-pelan dengan sederhana, tetapi isinya luar biasa, dan ini menunjukan kecerdasan. Ada kalanya berbicara keras penting, tetapi itu semuanya style (gaya) seseorang yang tidak bisa kersa dan tidak, semuanya bisa diatur, tetapi satu hal yang Saya tidak setuju ceramah diakhiri dengan doa dan doanya dengan jerat-jerit pake mic lagi “ya Allah bangsa kita”, kalau seperti ini malaikat yang mencatat kaget, seharusnya doa yang khusyu adalah dengan kerendahan hati dan rasa takut, itulah doa.

Akhirnya, dikritik oleh orang-orang yang tidak suka, yang dikritik bilang: ‘wah kelompok ini suka mengkritik’, kadang-kadang aglum kita ada benarnya, sekiranya kita sebagai pencari kebenaran kita tidak harus tersinggung, kalau dikritisi dari omongan kita, “kenapa tidak kita terima? Mungkin, bukan kebenaran pada mereka, akan tetapi saraf Anda mengajarkan begitu, cuman Anda tidak ingat, sehingga perlu diingataka. Berlanjut tentang doa masa seperti itu, Nabi saja tidak pernah mengajarkan doa jerat-jerit, apalagi pakai mic dijaman Nabi tidak ada mic…

al-Nifah berkaitan dengan kekuatan sahwat, jika dibiarkan liar, seperti binatang. Contoh, ‘Saya pernah memelihara dan memperkembangbiakan kucing,’ kucing mahal, tetapi Saya tidak mempunyai waktu, Saya serahkan pada anak Saya, dan anak Saya pun tidak mempunyai waktu juga. Akhirnya, kucingnya merana dan dijuallah, ‘tetapi yang unik apa?’ Begitu selesai kucingnya melahirkan, masyallah anaknya besar, anaknya tertarik pada ibunya, dan ibunya dikejar-kejar oleh anaknya. Luar biasa, teman Saya meminta fatwah pada Saya ‘bagaimana?’ Kata Saya: tidak apa-apalah kita nikahkan saja antara anak dan ibu, begitu dinikahkan lahirlah si anak kucing, cucu bagi si ibu dan anak bagi si anak, repot sekali urusannya. Sentana, kucing menikah tidak ke KUA, tidak ada wali, saksi, pembagian ahli waris, dan lain sebagainya.  Walaupun begitu, kucing yang mahal tetap memakai sertifikat, dan itu aneh-aneh saja, Saya bilang pada anak Saya: “nikahkan secara sirih saja tidak perlu memakai sertifikat”. Itulah perbedaan manusia dan binatang, kalau manusia diberi akal oleh Allah SWT berbeda dengan binatang yang tidak─kemudian melakukan hal yang seperti itu, itu namanya terlalu ekstream, dimanapun dia menyalurkan hasrat kebinatangannya. Disini dia tidak mempedulikan moral utamanya’. Hendaknya, dia menjaga ‘ifah’, dan orang yang melakukannya ‘afif’  kalau perempuan namanya ‘afifah’. Tetapi, kalau dikebiri tidak baik juga, kecuali dengan alasan, seperti orang yang tidak punya nafsu tidak boleh begini dan begitu. Contohnya, ada orang hidup seperti pendeta, nafsunya dihilangkan kepada siapapun tidak peduli, dan dia hidup hanya untuk Tuhan.  Tetapi, sekarang permasalahannya disana Paus yang sekarang diminta Dewan Pengajar harus tegas kepada pelecehan seksual Pastur terhadap biarawati-biarawati, banyak disana anak-anak atau bayi yang mati di Patikan, seharusnya jangan ada larangan Pastur dan Biarawati menikah, karena bertentangan dengan sifat dasar manusia, laki-laki tertarik pada perempuan wajar begitupun sebaliknya, pernikahan itu harus dilakukan dikarenakan biasa-biasa saja tidak ada masalah, cuman ada aturannya. Ada aturan dasar dan ada juga aturan yang dibuat oleh manusia, kalau aturan dasar adalah yang dikatakan benar dan kalau aturan manusia dikatakan tidak baik.  Beda antara baik dan benar, contoh, “oh ini” ‘Saya benar tetapi Anda tidak baik’, Anda baik tetapi tidak benar─urutan yang paling benar adalah benar dulu baru baik, kita sering berbicara masalah kebenaran tetapi kita tidak pernah berbicara moralitas yang baik.

Kebaikan dibentuk oleh sautu budaya ‘Saya menghadiri pernikahan teman Saya’, subhanallah keluar dari ayah dan ibunya kumpul semua, ditanya bukan hanya perempuannya saja yang ditanya mau atau tidak, tetapi semua keluarganya karena dia mau menikah dengan orang luar, keduanya merumuskan pernikahan yang akan berlangsung. Teman anak Saya adalah anaknya baik, cantik, tetapi calonnya luluasan pondok pesantren dia miskin, perdebatan keluargapun berlangsung, dan ‘apa yang terjadi?’ Pernikahanpun diresmikan oleh KUA, agama, pemerintah, ada yang sulit, yaitu itu kalau orang yang menikah dari luar daerah, di lihat berapa desa yang dia lalui? Setiap desa memiliki harga uang, begitulah adat. Uang yang dipintah oleh pihak mempelai wanita sangat funtasti, itupun uangnya dibagi-bagikan pada orang lain, secara kultur masyarakat kita sudah dipengaruhi nilai seperti itu, bicara benar atau tidak itu budaya. Kalau Saya masih mudah, Saya tidak akan mencari istri disana karena sulit sekali untuk menikahinya, tetapi yang paling hebat setelah mereka menikah adalah laki-laki itu mendapatkan seorang perempuan yang harganya sangat luar biasa.

Kembali pada ifah tadi, jika kita biarkan liar, maka kita akan melakukan apa yang dilakukan oleh binatang, tetapi seandainya dimatikan juga tidak diperbolehkan dalam agama. Agama memperbolehkan ditengah-tengah, yaitu disebut dengan al-Ifah─seperti yang diatas tadi, kalau dibiarkan sampai ekstream, sampai nifak hingga pada bagian sahwatnya akan menimbulkan kekuatan emosinya rusak, kekuatan akalnya rusak, semua kekuatannya rusak. Makanya, moral itu terletak pada tiga kekuatan, kalau semuanya rusak, maka moralnya-pun rusak. Nah, semestinya kita menjaga kekuatan kita yang terkait dengan satu, dua, dan tiga diatas, semuanya merupakan bagian dari takwa ‘fahal hamaha fujuroha watakwaha’ dan Allah berfirman dalam al-Quran  `diru: bersikap adillah kalian wa inahu akrobu litakwa: dan bersikap adil itu paling dekat dengan ketakwaan.

Orang yang mengendalikan kekuatan akalnya sehingga mendapatkan hikmah, mensyukuri sifat emosinya kemudian menjadi saja`ah, mengendalikan sahwatnya sehingga menjadi ifah, dan terjadi harmonisasi─yang namanya saja`ah, ifah dikendalikan oleh hikmah, makanya lahirlah al-Adalah dahiliyah (keadilan dalam diri), kalau Saya bertanya: ‘bagaimana menciptakan keadilan dalam diri?’ Jangan pernah Anda mengatakan Negara ini harus adil, tetapi yang mengatakannya tidak pernah mampuh menciptakan keadilah dalam diri. Kalau kita berbicara tentang moral utama, solat tepat waktu juga membantu menciptakan harmonisasi ‘Allahu akbar apapun mazhab Anda yang penting ikhlas’, terjadi harmonisasi, pengendalian diri, jikalau harmonisasi berjalan dengan bagus disitulah akan terjadi al-Isma dhahiliyah (penjagaan dari dalam), Anda bukan tidak mau berbuat salah, tetapi Anda tidak mampuh, “hebatkan? Saya tidak mau dusta, itu salah besar tetapi kalau Saya tidak mampuh berdusta, itu bagus, Saya berbicara seperti ini dari sisi keilmuan bukan diri Saya, Saya juga bisa melakukan seperti Anda, Saya juga bisa sama seperti Anda, omongan ini untuk kita. Bagaimana Anda sudah sampai pada derajat tidak mau atau tidak mampuh? Saya tidak mau, kalau kaya begitu sama seperti Saya.

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

diggi.id
STAI SADRA
diggi.id
TUTUP