Pengalaman Religius: Antara Fiksi dan Fakta

Sadranews. (22/02/2019) Pada hari jumat, Kegiatan rutin bulanan “ Ngopi Bareng Filosof ” bertema:“ Pengalaman Religius: Antara Fiksi dan Fakta ” kembali digelar  di aula Al Mustafa STFI Sadra. Acara ini dibuka oleh Bapak Ammar Fauzi P h.D, Kepala Departemen Riset Sadra.

Dalam pembukaannya, Bapak Ammar menyampaikan bahwa diangkatnya tema “Pengalaman Religius: Antara Fiksi dan Fakta” karena pertama kata fakta dan fiksi itu sendiri sempat ramai diperbincangkan publik sepanjang tahun lalu. Akibat klaim seorang politisi yang disimpulkan “Kitab Suci itu Fiksi” beredar dan menuai kontroversi. Kedua, berdasarkan pengalaman religius, ada orang bahkan mengaku sebagai Nabi atau Al Mahdi.

Acara kali ini menghadirkan narasumber: Prof. Dr. Hamidullah Marazi, Prof. Dr. Nurshamad Kamba dan Dr. Muhammad Zain. Para mahasiswa STFI Sadra, dosen dan tamu undangan memadati aula Al Mustafa. Turut hadir di dalamnya, Pimpinan Perwakilan Universitas Internasional Al Mustafa Jakarta, Dr. Mohammad Javad As`adi.

Dalam presentasinya mengenai “Pengalaman Religius Antara Fiksi dan Fakta”, Profesor ahli Tasawuf ini menyampaikan bahwa berbicara pengalaman religius bisa berarti beragama itu tidak serta merta bertuhan. Banyak orang beragama tapi sesungguhnya tak bertuhan. Hal ini karena sejauh mana pemahaman terhadap agama sehingga mereka menuhankan agama itu sendiri. Agama adalah aturan-aturan bagaiman kita beriman, beribadah kepada Allah swt dan bersosial kepada sesama manusia. Bisa jadi orang yang terlalu disibukkan prosedur-prosedur salat (gerakan, niat dan bacaan salat), malah melupakan Tuhan. Dia hanya fokus pada ritual salat saja sehingga melupakan esensinya(Tuhan).

Dalam pengalaman agama Tuhan tidak bisa dikonsepsikan dan difigurisasi. Kalau ilmu dan kesadaran manusia adalah persepsi dan konsepsi maka keduanya tidak bisa menjangkau Tuhan. Rasulullah saw bersabda: “ Apapun yang terbetik dalam benakmu itu bukan Tuhan”. Berdasarkan hadis ini Tuhan tidak bisa dijangkau pikiran-pikiran manusia. Ketika agama membangun konsepsi ketuhanan itu sebenarnya melakukan degradasi terhadap keabsolutan Tuhan. Ibnu Arabi mengatakan, “ Allah itu bukan siapa siapa. Ia Sang Mutlak dalam kemutlakanNya”. Jadi, “ Bertuhan artinya merefleksikan kebaikan-kebaikan Tuhan ke dalam perilaku kita”, ungkapnya.

Profesor Kamba sengaja provokatif memberikan pengantar agar diskusi berjalan lebih serius dan hidup.

Dr. Muhammad Zain sebagai pembicara kedua mengatakan bahwa pembahasan tentang pengalaman agama itu bisa rumit dan bisa sederhana. “Saya ingin menyampaikan yang sederhana saja”, imbuhnya.

Ada kisah dari seorang ahli Tasawuf terkemuka bernama Syaikh Junaid al Baghdadi. Konon seorang Sufi banyak godaannya. Dikasih uang tidak mempan. Disogok jabatan tidak bergeming. Suatu ketika Gubernur mengirim perempuan cantik pada tengah malam untuk menggoda Syaikh Junaid. Perempuan cantik itu mulai merayu dan menggoda sehingga Syaikh Junaid pun melakukan salat. Tidak berhenti merayu, perempuan cantik itu justru membuka aurat di hadapannya dan terus menggoda sampai pada saat Syaikh Junaid berzikir dan mengatakan, ‘Ah” perempuan itu meninggal seketika. Dr. Ahli Ulumul Quran itu meyakini pengalaman keberagamaan itu ada dan itu merupakan fakta yang dipercayai. Antara Jalaliyah dan Jamaliyah Allah swt harus ada keseimbangan supaya beragama ini tidak kering lantaran hanya bertakbir saja. Sesekali Tuhan perlu disapa dengan Maha Cantik atau Maha Indah. Misalnya Jalaludin Rumi dalam tarian Sema(Sufi) ketika berkeliling keliling seperti dalam kondisi Thawaf itu sebenarnya Rumi sudah bercampur dengan poro poros Tuhan. Tarian ini bisa Rumi lakukan selama dua hari dua malam tanpa istirahat.

Seperti biasa ,lantunan musik dan petikan gitar Bang Hendra di sela-sela serunya pembahasan berat ini, membuat suasana rileks dan menambah semarak berlangsungnya acara.

Acara berlangsung selama dua jam tiga puluh menit berturut-turut dan berakhir dengan segmen tanya jawab. Beberapa hadirin yang sejak awal antusias mendengarkan uraian-uraian materi berat dari para narasumber, bergegas mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyimak jawaban-jawabannya.

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

diggi.id
STAI SADRA
diggi.id
TUTUP