“RASA’IL IKHWAN AS SAFA”, SEMINAR NASIONAL FILSAFAT ISLAM DAN TASAWUF PMIAI-ICAS-UP JAKARTA

921372_10200728338871800_1232291521_o (1)PMIAI-ICAS UP JAKARTA- 17/10/2013 Kembali mengadakan Seri Seminar Nasional Filsafat Islam dan  Tasawuf bertempat di Auditorium Al Mustafa yang kali ini membahas Rasa’il Ikhwan as-safa. Pembicara kali ini adalah akademisi muda yang mendedikasikan karir akademiknya dibidang filsafat islam. Beliau adalah Muhammad Fariduddin Attar MA Candidate dari Mcgil University. Tema khusus yang menjadi subjek pembahasan kali ini adalah Synthesis in Syncretisme; The Microcosmic Human Being the Methtodology of The Ikhwan al-safa. Bertindak sebagai moderator dalam seminar kali ini adalah Deputy Direktur Bidang Pendidikan Dr. Kholid Al Walid. Dalam kesempatan ini beliau berkesempatan memberikan beberapa pengatar mengenai aspek sejarah Ikhwan As Shafa dan perbandingan dengan Filosof Muslim setelah mereka. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara PMIAI-ICAS UP Jakarta dengan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.

Elaborasi berbagaimacam disiplin ilmu yang diketengahkan dalam Epistles (Rasa’il) menurut Muhammad Faridudin Attar membawa kita pada asumsi teoritis mengenai adanya kesinambungan epistemologi yang menjadi asas keseluruhan pengetahuan. Dalam pembahasan ini, Attar memberikan beberapa penjelasan mengenai point-point penting dalam kaidah epistemologi yang diketengahkan dalam Epistles (Rasa’il). Prinsip-prinsip pengetahuan yang menjadi bagian ikhwan as-safa adalah tradisi neoplattonisme dan aristotelianisme yang bersumber secara klasik dari Alexanderia hingga spiritualisme yang berasal dari islam. Dari kaidah-kaidah filsafat ini, Rasail Ikhwan as-safa dihadirkan dalam bentuk ensiklopedi filsafat yang paling lengkap di zamannya. Epistles (Rasail) terdiri dari 52 pembahasan yang dibagi dalam beberapa yaitu matematika, science teoritis, ilmu alam, logika, dan teologi. Namun sekali lagi, corak umum dari Rasail adalah paripatetisme aristotles yakni rasionalisme.

Berdasarkan kaidah rasional, realitas setidaknya dapat dibagi berdasarkan dua kategori subtansi, yakni subtansi material yang gelap dan subtansi jiwa yang bersifat spiritual. Kedua realitas ini memiliki hukum-hukumnya yang berbeda sehingga perlakuan praktis terhadap subjeknyapun akan berbeda. realitas material yang terikan hukum-hukum yang bersifat fisikal memiliki kaidahnya sendiri dan begitupun subtansi jiwa yang abstrak sebagai fakultas jiwa yang memiliki kapabilitas untuk memahami realitas universal dan suci. Inilah aspek spritual dari diri manusia yang membuat dirinya lebih dekat keapada realitas murni. Di aspek lain, struktur material manusia adalah unsur-unsur mineral yang sama sebagai penyusun struktur alam semesta. Artinya, manusia adalah ekspresi paripurna dari jiwa alam semesta yang memungkinkan baginya untuk melakukan tindakan perfeksi. Proses perfeksi inilah yang menjadi alasan utama bagi manusia untuk lebih mengintensifkan hubungan dirinya dengan realitas spiritual melalui telaah terhadap subjek-subjek pengetahuan. Artinya, faktor utama yang mendorong manusia untuk memahami realittats alam semesta adalah karena spritualitas untuk menemukan Tuhan.

Permasalahannya adalah, bagaimana kita dapat memahami bahwa  seluruh subjek disiplin ilmu sebagai bagian dari pengetahuan itu sendiri memliki kesinambungan atau kesatuan dalam prinsip-prinsip epistemologisnya. Muhammad Fariduddin Attar menjelaskan bahwa, epistemologi sebenarnya memiliki dua sisi, pertama epistemologi khusus yang menjadi pisau analisis dalam disiplin ilmu yang lebih spesifik yaitu yang kita sebut dengan Metodologi dan kedua Epistemologi secara umum yang merupakan kaidah-kaidah rasional sebagai basis analitik bagi seluruh disiplin ilmu. Namun yang menjadi spirit utama dari seluruh epistemologi ini adalah hasrat alami dari realitas makrokosmos untuk kembali pada sumber eksistensinya melalui gerak menuju aktulitas dan puncak dari pergerakan makrokosmos adalah ekspresi jiwa impersonal ini kedalam wujud mikrokosmos yang terhubung secara langsung ke alam spiritual melalui fakultas rasional yakni manusia itu sendiri. Pungkasnya.

Muhammad Fariduddin Attar saat ini aktif dalam aktifitas akademis yakni kajian dan penelitian dalam literatur-literatur filsafat islam klasik dan saat ini tengah menyelesaikan masa studi di McGil University untuk Post-Graduate Program.

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

diggi.id
STAI SADRA
diggi.id
TUTUP