Tantangan Perguruan Tinggi Islam Dalam Era New Normal

Sadranews-STFI Sadra menggelar acara Webinar Studium Generale Semester Genap TA 2020-2021 berjudul “Tantangan Perguruan Tinggi Islam Dalam Era New Normal” di Aula Al Mustafa STFI Sadra Jakarta, Kamis (11/02/2021) pagi.

Acara Webinar ini diikuti kurang lebih 130 peserta dan dihadiri oleh Prof. Dr. Hossein Muttaqhi (Direktur Perwakilan Universitas Internasional Al Mustafa Indonesia), Prof. Dr. Zulkifli, MA (Wakil Rektor 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Kholid Al Walid, MA (Ketua STFI Sadra) dan sejumlah jajaran deputi STFI Sadra.

Acara dibuka pukul 14:00 WIB dengan pembacaan kalam ilahi dan dilanjutkan dengan nyanyian lagu Indonesia Raya.

Dalam sambutannya, Dr. Kholid Al Walid mengatakan meskipun dalam situasi pandemi yang tak kunjung usai ini STFI Sadra masih terus melakukan kegiatan belajar-mengajar secara online. Banyak tantangan yang kita alami dan itu biasa terjadi dalam dunia pendidikan. Bahkan penelitian menunjukkan kegagalan sistem pendidikan online yang dijalankan sekarang ini. Dalam lelucon dikatakan dosen mengajar poto yang ditampilkan sementara mahasiswanya entah kemana dan sebaliknya dosen hanya mengirim rekaman video yang ditayangkan ke mahasiswanya sementara ia melakukan kesibukan lain.

“Proses pendidikan online semacam ini yang pastinya tidak diharapkan. Karena itu perlu pemikiran yang luas dan mendalam sebagai solusi untuk proses pendidikan online agar sesuai atau paling tidak mendekati harapan kita,”ungkapnya.

Sementara dalam presentasinya, Prof. Mottaghi menyampaikan dampak negatif yang ditimbulkan dari Covid-19, paling tidak ada tiga aspek terkait pendidikan. Pertama, dampak negatif bagi siswa yang harus belajar di rumah yaitu keluarga bukan lah lingkungan yang kondusif sebagai lingkungan pendidikan, dan situasi psikis dan persoalan pendidikan yang sedang dialami tidak bisa dipecahkan dalam keluarga. Kedua, dampak negatif bagi personal siswa itu sendiri yaitu waktu yang berlebihan diberikan kepada siswa di depan laptop atau Hand Phone akan membahayakan kesehatan siswa dan psikologisnya, siswa tidak bisa mengambil aura positif atau berkah dari dosen secara langsung dengan belajar online dan keterbatasan kemampuan siswa dan tingginya biaya penggunaan perangkat eletronik dan internet menjadi hambatan.

Ketiga, dampak negatif bagi pendidikan siswa yaitu minimnya interaksi siswa dengan dosen akan mengurangi keberhasilan penyampaian materi-materi kuliah ke siswa, keterbatasan dan kesulitan dosen secara pribadi baik menyangkut ekonomi, sosial dan ketika ia harus mengajar dari rumah, dosen yang tidak menguasai skill mengajar secara online tentu daya sampainya ke siswa akan berkurang dan gangguan internet atau problem teknis lain yang sering terjadi akan membuang banyak waktu dan menimbulkan kelelahan luar biasa bagi dosen dan siswa.

”Solusinya, meskipun berat orang tua harus mengambil alih sebagian tugas dosen di rumah, seluruh anggota keluarga harus bisa menjamin bahwa mereka tetap menjaga kesehatan secara fisik dan mentalnya sehingga kondusif bagi pembelajaran di rumah, dosen dan mahasiswa perlu meingkatkan kreativitas dan inovasi agar pembelajarannya tidak membosankan dan dapat memberikan terobosan baru, dosen perlu menganggap siswa sebagai anak-anak mereka sendiri sehingga peduli dengan keadaan mereka dan memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, dan meningkatkan spiritualitas serta lebih mendekatkan diri kepada Allah swt,”pungkasnya.

 

Pada kesempatan ini dalam presentasinya, Prof. Zulkifli menyampaikan gambaran umum bahwa kita berada dalam kondisi merdeka belajar dan kampus merdeka. Juga adanya disrupsi yaitu gangguan yang membuat sebuah sistem tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itu, perlu adanya perubahan secara mindset dan adaptasi lantaran yang selamat itu bukan yang kuat atau pinter tapi yang mampu melakukan perubahan dan adaptasi. Ada lima poin terkait inovasi pembelajaran dalam situasi pandemi.

Pertama, harus melakukan redisain kurikulum yang bersifat integratif, tidak boleh ada dikotomi antara agama dan non agama. Kedua, penguatan moderasi beragama. Ketiga, peningkatan kualitas SDM dimana minimal dosen harus lah doktor. Keempat, peningkatan kualitas dan kuantitas riset dan publikasi ilmiah baik untuk dosen maupun siswa. Kelima, pengembangan kelembagaan dan internasionalisasi menyangkut Prodi dan mata kuliah baru sehingga ada ilmu yang bersifat holistik dan integratif.

“Terkait tantang yang dihadapi Perguruan Tinggi Islam ada enam poin. Pertama, adaptabilitas yaitu kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan. Kedua, pendidikan karakter dimana melalui pembelajaran online karakter kujujuran dan kedisiplinan ditanamkan pada siswa. Ketiga, moderasi beragama sehingga tidak mudah mengklaim dan berfikir hitam putih. Keempat, pembelajaran inovatif yang menyenangkan bersifat dialogis bagi dosen dan siswa. Kelima, berfikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreativitas. Keenam, sarana, fasilitas dan keuangan,”terangnya.

Setelah sesi tanya jawab, acara ditutup dengan doa bersama yang dipandu oleh Hasyim Adnani, MA.

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

STAI SADRA
TUTUP