Ungkap Fakta Ghadir Khum, STAI Sadra Gelar Seminar Nasional

Sadranews-Seminar Nasional berjudul “Kepemimpinan dalam Islam” bertepatan dengan peristiwa Ghadir Khum pada 18 Dzulhijah 10 H dilaksanakan pukul 14.00 WIB di Auditorium Al Mustafa STAI Sadra dengan menghadirkan narasumber Dr. Alwi Husein, MA. Hum dan Abdullah Beik, MA.

Waka IV Riset STAI Sadra Ammar fauzi, Ph.D mewakili Ketua STAI Sadra dalam sambutannya mengatakan persoalan kepemimpinan terkait sosok Ali bin Abi Thalib dan masa depan umat Islam pasca Nabi Muhammad saw sangat mencolok dalam peristiwa Ghadir Khum di mana tidak ada yang meragukan fakta peristiwa ini baik dari kalangan ahli hadis, ahli tafsir maupun sejarawan. Peristiwa yang dihadiri hingga seratus empat puluh ribu sahabat ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadis adalah peristiwa paling mutawatir sehingga peristiwa-peristiwa lain tidak dapat mengungguli kemutawatiran peristiwa Gahdir Khum ini.

Sementara Dr. Alwi menjelaskan bahwa Ghadir Khum adalah peristiwa yang sudah dipersiapkan sebelumnya bukan insidental. Kalau Nabi Adam as, Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as dan para Nabi lainnya menunjuk seorang sebagai wakil mereka, padahal akan ada nabi pengganti setelah mereka, bagaimana mungkin Rasulullah saw tidak menunjuk seorang pengganti dan membiarkan umat begitu saja, apalagi tidak akan ada lagi nabi setelahnya. Hadis ad Dar (Tentang Nabi Muhammad saw yang mengumpulkan keluarganya dan hanya Ali bin Abi Thalib yang siap membantunya ketika beliau dalam masalah) salah satu peristiwa yang menunjukkan bahwa sejak awal dari kota Mekah hingga Madinah dalam berbagai kesempatan Rasulullah saw sudah mengkondisikan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.

“Rasulullah saw tidak menyebut seorang pun dari sahabat beliau dengan sebutan Ka Nafsi (sepertiku) kecuali kepada Ali bin Abi Thalib. Tidak ada yang membedakan Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib kecuali kenabian dan Rasulullah saw sebagai guru Ali bin Abi Thalib,” terang Dr. Alwi di hadapan para dosen dan mahasiswa, Rabu (26/6/2024) siang.

Ia menambahkan, Ghadir Khum  adalah tempat di mana Nabi saw berpidato tentang pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya di hadapan puluhan atau bahkan ratusan ribu sahabat di bawah terik matahari dengan sabdanya, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali bin Abi Thalib juga sebagai pemimpinya”. Berdasarkan keutamaan dan kedudukan tinggi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah saw dan berbagai peristiwa dan hadis yang mendukung penkondisian Rasul mengenai Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya tersebut, maka makna kata “Maulahu” selain pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pasca Nabi saw seperti sekedar kecintaan kepadanya atau yang terkait barang rampasan perang, sangat tidak relevan dan jauh dari konteks.

Selain itu Abdullah Beik, MA menyampaikan pandangan para filosof dan teolog tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib terkait peristwa Ghadir Khum ini. Antara lain Muhammad Bagir Shadr mengatakan, “Tidak mungkin Nabi saw sebelum wafat tidak menunjuk seseorang sebagai penggantinya karena beliau sudah berjuang mati-matian dalam menegakkan Islam melalui berbagai peperangan sehingga banyak menelan korban jiwa”. Islam ajaran yang komprehensif termasuk mengurusi hal-hal sederhana, bagaimana mungkin urusan agama dan akhirat umat Islam yang jauh lebih penting dibiarkan begitu saja tanpa menunjuk seorang pengganti yang membimbing umat.

“Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa` menyebutkan kewajiban kita untuk taat kepada seorang imam yang sebaiknya ditunjuk melalui nash bukan pemilihan karena pemimpin yang ditunjuk melalui nash lebih benar dari pada melalui pemilihan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, Mulla Sadra dalam mengomentari kitab Ushul Al Kafi dengan tegas menyebutkan kepemimpinan itu secara rasional harus dipilih oleh Allah swt melalui lisan NabiNya. Secara rasional bisa dibuktikan bahwa nabi dan imam adalah kepemimpinan ilahiah bukan basyariah dan dalam al-Qur`an disebutkan bahwa Allah lah yang menjadikan manusia sebagai para imam yang memberikan petunjuk.

“Khajeh Nasiruddin Thusi dalam kitab Tajrid al-I`tiqad mengatakan imamah itu seperti nubuwah yang harus disertai kemaksuman, maka kriteria itu ada pada sosok Ali bin Abi Thalib,” imbuhnya.

Ia menambahkan, Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al Makkiyah dalam bab awal mula penciptaan di alam ruhani bukan jasmani mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sosok paling dekat dengan Rasulullah saw. Paling dekat di sini bukan karena sahabat, menantu atau lainnya tapi sebagaimana dibahas oleh Ibnu Arabi tentang kedudukan-kedudukan tinggi Nabi saw di alam ruhani yang jauh di atas malaikat Jibril, maka Ali bin Abi Thalib memiliki kedudukan tinggi di alam ruhani seperti Nabi.

“Tatkala perintah ilahi melalui sabda Rasul ini tidak dijalankan, maka dalam pemilihan Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah di Saqifah bani Saidah pun terjadi perdebatan dan konflik yang sengit sehingga menimbulkan korban jiwa. Masing-masing kelompok merasa lebih pantas untuk dipilih sebagai khalifah. Bahkan ada yang berkata kalau tidak ada kesepakatan, maka dipilih dua pemimpin dari Muhajirin dan Anshar. Sampai akhirnya Khalifah Ummar bin Khattab seraya menghunuskan pedangnya menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah dan berbaiat kepadanya, serta siapa saja yang menentang keputusannya akan berhadapan dengan pedangnya,” pungkasnya.

 

PROGRAM STUDI

PRODI FILSAFAT

menghasilkan sarjana filosof muda yang memiliki pemahaman luas dan keahlian di bidang filsafat Islam, serta mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan pemikiran Filsafat dan Islam pada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional

ALQURAN DAN TAFSIR

menghasilkan para sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir, mampu melakukan penelitian fenomena sosial dan keagamaan dan mencari alternatif pemecahanan masalahnya berbasiskan pada Ilmu Al- Quran dan Tafsir.

Jalan. Lebak bulus II no.2 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430. Call: 021-29446460 Fax: 021-29235438 info@sadra.ac.id

About us

Sekolah Tinggi Filsafat Islam di Indonesia yang fokus pada pengkajian filsafat Islam & Ilmu Alqur’an – Tafsir. Sistem pembelajaran di dasarkan pada perpaduan antara nilai-nilai tekstual (alqur’an & Assunah) dengan pendekatan rasional yang bersumber dari khazanah ilmiah Islam klasik & kontemporer.

diggi.id
STAI SADRA
diggi.id
TUTUP