Soroti Fenomena Overthinking Gen Z: STAI Sadra Berikan Solusi Praktis Lewat Webinar Psikologi

Sadranews- Fenomena overthinking yang semakin marak di kalangan generasi Z menjadi perhatian serius STAI Sadra. Melalui webinar psikologi bertema “Memahami Fenomena Overthinking di Kalangan Generasi Z”, kampus tersebut menghadirkan ruang edukasi sekaligus refleksi bagi anak muda yang tengah menghadapi tekanan mental di era digital.

Kegiatan yang berlangsung secara daring pada Jumat (15/5/2026) sejak pukul 08.30 WIB itu diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen  hingga masyarakat umum. Webinar ini menjadi bagian dari rangkaian promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sekaligus pengenalan program beasiswa yang dibuka oleh STAI Sadra Jakarta.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Program Studi Psikologi STAI Sadra, Dr. Muhammad Alwi, membahas secara mendalam fenomena overthinking yang kini banyak dialami generasi Z. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa tekanan untuk sukses, ketidakpastian masa depan, serta pengaruh media sosial menjadi faktor utama meningkatnya kecemasan di kalangan generasi Z.

Dr. Alwi mengajak peserta melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: sulit tidur karena terlalu banyak pikiran, takut mencoba karena khawatir gagal, hingga membayangkan kemungkinan terburuk dalam berbagai situasi. Menurutnya, kondisi tersebut kini bukan lagi persoalan individual, melainkan fenomena sosial yang banyak dirasakan generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa overthinking terjadi ketika seseorang berpikir secara berlebihan hingga pikirannya tidak lagi membantu menyelesaikan masalah, tetapi justru memicu kecemasan, kelelahan mental, dan hambatan untuk bertindak. Dalam sesi tersebut, Dr. Alwi memaparkan beberapa bentuk overthinking, seperti rumination atau terus mengulang kejadian masa lalu, worry yang berfokus pada ketakutan masa depan, catastrophizing yang membayangkan skenario terburuk, hingga mind reading, yakni merasa mengetahui penilaian negatif orang lain terhadap diri sendiri.

“Jika terus dibiarkan, overthinking dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental maupun aktivitas sehari-hari. Mulai dari sulit tidur, hilangnya konsentrasi, kecemasan berlebih, menunda pekerjaan, menurunnya rasa percaya diri, hingga kelelahan mental yang berkepanjangan, “ ungkap Dr. Alwi.

Dalam pemaparannya, Dr. Alwi juga menekankan perbedaan antara berpikir kritis dan overthinking. Berpikir kritis, kata dia, berorientasi pada fakta dan solusi, sedangkan overthinking dipenuhi ketakutan dan keraguan tanpa arah penyelesaian yang jelas. Ia menyebut sejumlah faktor psikologis yang sering menjadi pemicu, seperti perfeksionisme, rendahnya rasa percaya diri, pengalaman kegagalan, takut ditolak, hingga ketidakmampuan menghadapi ketidakpastian hidup.

Sebagai bentuk penanganan, peserta diberikan berbagai langkah praktis untuk mengurangi overthinking. Di antaranya menyadari bahwa pikiran bukanlah fakta, menuliskan isi pikiran, membatasi waktu memikirkan masalah, fokus pada hal yang dapat dikendalikan, serta mulai mengambil tindakan kecil. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur, rutin berolahraga, menerapkan mindfulness, dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.

Menariknya, webinar ini tidak hanya membahas persoalan psikologi dari sisi ilmiah, tetapi juga menghadirkan pendekatan spiritual Islam. Dr. Alwi menekankan pentingnya tawakal, husnuzan, dzikir, dan qanaah sebagai cara menjaga ketenangan hati. Ia mengutip QS Ar-Ra’d ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

“Berusaha maksimal lalu menyerahkan hasil kepada Allah. Itu salah satu cara agar pikiran kita tidak terus dibebani oleh kecemasan yang berlebihan,” ujar Dr. Alwi di hadapan peserta webinar.

Selain menjadi ruang edukasi kesehatan mental, webinar tersebut juga dimanfaatkan sebagai ajang pengenalan lebih dekat terhadap lingkungan akademik STAI Sadra Jakarta. Panitia menayangkan video profil kampus yang memperlihatkan aktivitas mahasiswa, suasana akademik, hingga pengenalan Program Studi Psikologi Islam yang menjadi salah satu program unggulan kampus tersebut.

STAI Sadra Jakarta dikenal sebagai sekolah tinggi yang mengintegrasikan kajian filsafat, psikologi, dan nilai-nilai spiritual Islam dalam pendekatan akademiknya. Melalui berbagai program pendidikan dan beasiswa yang tersedia, kampus ini berupaya membuka akses pendidikan bagi generasi muda yang ingin mendalami psikologi Islam, filsafat, dan kajian keislaman kontemporer.

Program beasiswa yang ditawarkan menjadi salah satu daya tarik utama, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin melanjutkan studi dengan pendekatan akademik yang memadukan penguatan intelektual, spiritual, dan kepedulian sosial.

Melalui webinar ini, STAI Sadra Jakarta menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental generasi Z tidak dapat dipandang sederhana. Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial digital, pendekatan psikologi yang dipadukan dengan nilai-nilai spiritual menjadi tawaran penting bagi generasi muda untuk menemukan ketenangan sekaligus arah hidup yang lebih sehat dan bermakna.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Dalam sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan berbagai pengalaman pribadi dan pertanyaan seputar cara menghadapi overthinking dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh pertanyaan dijawab secara interaktif oleh pemateri sehingga suasana webinar terasa hidup dan komunikatif.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top