Sadranews- Safari akademik kembali digelar oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra. Kali ini, para mahasiswa mendapat kesempatan mengikuti secara langsung program Catatan Demokrasi di Studio tvOne pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 20.00 WIB. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai penonton, melainkan turut ambil bagian dalam diskusi nasional yang membahas isu geopolitik dan kemanusiaan internasional.
Program yang dipandu host Andromeda Mercury tersebut mengangkat tema besar terkait pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, di tengah memanasnya dinamika politik global. Diskusi juga menyoroti dugaan adanya hidden agenda terhadap Iran serta isu penahanan lima Warga Negara Indonesia (WNI) oleh militer Israel saat mengikuti aksi kemanusiaan internasional.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber dan panelis dalam forum tersebut, di antaranya Yon Machmudi, Agung Sasongkojati, Ali Mochtar Ngabalin, Anton Aliabbas, Aisha Rasyidla, Dina Sulaeman, dan Abdul Haris Fatgehipon. Pembahasan berlangsung dinamis dengan sorotan pada ketegangan geopolitik dunia dan posisi Indonesia dalam merespons berbagai konflik internasional.
Di tengah berlangsungnya diskusi, mahasiswa STAI Sadra tampil aktif dan percaya diri dalam forum yang mempertemukan mereka dengan mahasiswa Universitas Indonesia. Kehadiran mahasiswa STAI Sadra menjadi sorotan karena mampu menunjukkan kualitas intelektual dan kepedulian terhadap isu-isu global yang tengah berkembang. Riski Faldi, mendapat kesempatan menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber terkait langkah pemerintah Indonesia dalam merespons penahanan lima WNI oleh militer Israel.
“Bagaimana pendapat narasumber terkait upaya pemerintah dalam merespon lima WNI yang ditahan oleh militer Israel?” tanya Riski di hadapan forum nasional tersebut.
Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Aisha Rasyidla. Ia menilai proses penyelamatan para WNI bukan perkara mudah karena membutuhkan jalur diplomasi yang kompleks di kawasan konflik.
“Misi penyelamatan cukup complicated. Indonesia sebenarnya harus memanfaatkan jaringan-jaringan KBRI yang ada di sana, seperti Turki dan Jordania untuk mendapatkan akses terhadap negosiasi langsung, tapi ini sangat sulit dilakukan. Upaya lain adalah memanfaatkan jalur-jalur diplomasi multilateral,” ujar Aisha.
Partisipasi aktif mahasiswa STAI Sadra dalam program nasional tersebut menunjukkan komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa untuk hadir langsung di ruang-ruang diskusi publik. Tidak hanya memperluas wawasan akademik, pengalaman itu juga menjadi sarana pembelajaran nyata mengenai diplomasi, politik internasional, dan isu kemanusiaan global.


