Sadranews— STAI Sadra menggelar Acara Buka Puasa Bersama (Bukber) bertajuk “Menguatkan Ukhuwah dan Meneguhkan Nilai-Nilai Islam” di Auditorium Al Mustafa pada Jumat (27/2/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 16.30 WIB dan berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu bukan sekadar agenda tahunan bulan Ramadhan, tetapi juga menjadi ruang temu antara spiritualitas, keluarga, dan tradisi akademik.
Acara dibuka dengan lantunan kalam ilahi oleh Ustadz Usep Irawan yang menghadirkan suasana khidmat, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Para dosen dan karyawan beserta keluarga serta para tamu undangan hadir memenuhi auditorium. Turut hadir Direktur Yayasan Hikmat Al Mustafa Prof. Dr. Hossein Mottaghi, Ketua STAI Sadra Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., Deputi Perguruan Tinggi Al Mustafa Prof. Dr. Kholid Al Walid, M.Ag., jajaran pimpinan serta Duta Besar Iran untuk Indonesia Dr. Mohammad Boroujerdi.
Dalam sambutannya, Prof. Mottaghi menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi pendidikan tidak hanya ditopang oleh profesionalisme kerja, tetapi juga oleh harmoni keluarga. Ia menyampaikan rasa syukur dan gembira dapat kembali berkumpul bersama dalam momentum bulan Ramadhan yang sarat akan makna spiritual.
“Momentum bukber tahun ini semakin istimewa dengan peluncuran buku karya Ketua STAI Sadra. Semoga peluncuran buku tersebut menjadi pemantik lahirnya karya-karya ilmiah lain yang memperkaya khazanah pemikiran Islam,” ungkapnya dalam bahasa Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdullah Beik, M.A.
Sementara Dr. Otong Sulaeman menyampaikan apresiasi yang sebesarnya kepada seluruh panitia dan pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini, khususnya kepada Direktur Yayasan Hikmat Al Mustafa. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas kejutan peluncuran bukunya yang dilakukan bertepatan dengan agenda buka bersama.
“Salah satu buku yang diluncurkan berjudul “Dua Cahaya” yang mengangkat diplomasi budaya dengan fondasi filsafat, tasawuf, dan spiritualitas. Buku tersebut menampilkan gagasan para filosof besar Islam seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Suhrawardi, dan Mulla Sadra, serta para penyair-filosof yang pemikirannya memberi pengaruh lintas peradaban,” terangnya saat memberikan sambutan singkat.
Menurut Dr. Otong, jejak pemikiran mereka tidak berhenti di ruang akademik Timur Tengah, tetapi juga masuk ke dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan karya klasik seperti Bustan karya Saadi Shirazi yang pemikirannya diajarkan di sejumlah pesantren di Indonesia.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, suasana semakin semarak saat memasuki sesi pengundian doorprize. Tawa dan sorak bahagia mengiringi peserta yang namanya disebut untuk maju ke depan mengambil hadiah. Namun lebih dari itu, kebersamaan yang terbangun menjadi refleksi konkret nilai ukhuwah yang diusung dalam tema acara.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ahmad Hafidh Alkaf, M.A dan sesi foto bersama. Bukber STAI Sadra tahun ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menegaskan komitmen lembaga dalam merawat tradisi ilmiah Islam yang berakar pada filsafat dan spiritualitas.
Di tengah dinamika zaman, pertemuan seperti ini menjadi penanda bahwa pendidikan tinggi Islam bukan sekadar ruang transfer ilmu, melainkan juga ruang pembentukan karakter, penguatan keluarga, dan reproduksi gagasan-gagasan besar yang terus hidup dalam peradaban.

