Perkuat Budaya Riset, STAI Sadra Gelar Workshop Strategi Lolos Dana Bantuan Penelitian dan PkM

Sadranews— Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menggelar Workshop Strategi Lolos Dana Bantuan Penelitian dan PkM Dosen STAI Sadra, Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring ini digelar di Ruang Sidang Lantai 2 STAI Sadra dan diikuti oleh dosen homebase STAI Sadra.

Mengangkat tema “Strategi Kreatif-Inovatif Penyusunan dan Pengajuan Proposal Dana Bantuan Penelitian dan PkM”, workshop ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan dosen dalam menyusun proposal penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang memiliki kualitas akademik sekaligus memenuhi ketentuan pengajuan dana bantuan.

Workshop yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB itu menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan, penelitian, serta pengembangan program akademik dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada sesi pertama, materi disampaikan secara daring oleh Dr. Nur Khafid, S.Th.I., M.Sc., Kasubdit Litapdimas, Kementerian Agama RI. Dalam pemaparannya, ia membahas sejumlah kebijakan pemerintah dalam pengembangan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di lingkungan Kementerian Agama RI.

Dr. Nur Khafid menjelaskan bahwa arah kebijakan penelitian dan PkM kini didorong menuju kegiatan yang tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial. Pergeseran orientasi ini menuntut para peneliti untuk memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti pada penyelesaian masalah, melainkan mampu melahirkan gagasan baru yang memiliki manfaat lebih luas.

“Dalam riset dasar unsur kebaruan menjadi salah satu aspek penting. Namun, konsep kebaruan dalam riset dasar memiliki karakteristik yang berbeda dengan riset terapan maupun riset pengembangan. Karena itu, peneliti perlu memahami posisi dan orientasi riset yang dilakukan agar kebaruan yang ditawarkan benar-benar relevan dengan jenis penelitian tersebut,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya memastikan hasil penelitian memiliki output dan outcome yang dapat dimanfaatkan, baik oleh masyarakat, lembaga, maupun peneliti itu sendiri. Dengan demikian, penelitian tidak sekadar menjadi solusi atas suatu persoalan, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Penguatan metodologi penelitian menjadi hal yang penting, khususnya dalam mempersiapkan riset yang berorientasi pada pengembangan penelitian terapan dan riset pengembangan. Agenda riset nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi dan integrasi antara ilmu-ilmu agama dan sains, dengan tetap memperhatikan berbagai isu prioritas nasional,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nur Khafid juga mengingatkan pentingnya penguasaan terhadap petunjuk teknis (juknis) program bantuan penelitian dan PkM. Minimnya pemahaman terhadap juknis dapat menjadi salah satu penyebab gagalnya pengajuan proposal. Pasalnya, ketentuan dalam juknis dapat mengalami perubahan dan penyempurnaan dari waktu ke waktu.

Karena itu, menurutnya pemahaman terhadap kebijakan dan juknis menjadi bagian penting dalam strategi penyusunan dan pengajuan proposal. Proposal yang disusun tidak hanya harus memenuhi seluruh persyaratan administratif dan substansial, tetapi juga perlu memiliki kualitas serta daya saing yang kuat dalam proses seleksi dana bantuan penelitian dan PkM.

Memasuki sesi kedua workshop, Prof. Dr. Suwendi, M.Ag., Guru Besar sekaligus peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan pengalaman akademik dan penelitian yang dimilikinya, membekali peserta dengan pemahaman bahwa proposal penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bukan sekadar dokumen administratif untuk memenuhi persyaratan pengajuan bantuan.

“Proposal harus disusun sebagai rancangan kegiatan yang memiliki persoalan yang jelas, tujuan yang terarah, metode yang tepat, serta kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap unsur dalam proposal perlu disusun secara sistematis agar gagasan penelitian maupun PkM dapat terlihat secara utuh dan meyakinkan,” tegasnya saat menyampaikan presentasi secara luring di hadapan para dosen.

Dalam pemaparannya, Prof. Suwendi juga menjelaskan tiga program utama dalam skema Litapdimas, yakni penelitian, publikasi ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Ketiga program tersebut dikelola melalui akun Litapdimas, termasuk dalam proses pengajuan dan pelaporannya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pelaporan penelitian menggunakan basis Standar Biaya Keluaran (SBK). Sementara itu, pelaporan untuk publikasi ilmiah dan Pengabdian kepada Masyarakat menggunakan Standar Biaya Masukan (SBM). Penjelasan tersebut menjadi bagian penting bagi peserta untuk memahami ketentuan administratif dan pembiayaan dalam penyusunan serta pelaporan program.

Kehadiran dua narasumber dari latar belakang yang berbeda memberikan perspektif yang saling melengkapi, terutama mengenai strategi pengajuan proposal dari sisi kebijakan pendanaan dan kualitas akademik.

Peserta workshop merupakan dosen homebase STAI Sadra yang telah memiliki rancangan atau draf proposal penelitian atau PkM. Persyaratan tersebut dirancang agar kegiatan tidak berhenti pada pemaparan materi, tetapi dapat langsung diarahkan pada pengembangan proposal yang sedang disiapkan oleh para dosen.

Selain mendapatkan materi dan kesempatan berdiskusi, workshop juga memberikan apresiasi kepada peserta teraktif dan proposal terbaik. Apresiasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan peserta sekaligus meningkatkan kualitas proposal penelitian dan PkM yang diajukan oleh dosen STAI Sadra.

Melalui workshop ini, STAI Sadra menegaskan komitmennya untuk memperkuat budaya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan kampus. Peningkatan kapasitas dosen dalam menyusun proposal diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi lahirnya penelitian dan program PkM yang berkualitas serta memperoleh dukungan pendanaan.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top