Sadranews_STAI Sadra Jakarta kembali mencatatkan capaian riset internasional melalui publikasi artikel kolaboratif antara alumnus dan dosen aktif. Hasan Shahab, alumnus STAI Sadra yang kini menjabat Ketua Indonesian Data Science and AI Association (ASDASI), bersama Dr. Cipta Bakti Gama, dosen aktif STAI Sadra Jakarta, menerbitkan artikel pada Zygon: Journal of Religion and Science, jurnal internasional yang terindeks Scopus dan berada pada kuartil pertama (Q1) dalam bidang Religious Studies, Minggu (27/9/2026).
Artikel berjudul “Ibn Sīnā’s Philosophy as Framework for Understanding Artificial Intelligence: Ontology, Epistemology, and Machine Cognition’s Boundaries” dimuat dalam Zygon, Vol. 61 No. 3 (2026), halaman 815–833. Artikel ini dapat diakses secara terbuka melalui DOI: https://doi.org/10.16995/zygon.24448.
Riset tersebut mengkaji perkembangan kecerdasan artifisial (AI) melalui kerangka filsafat Ibn Sina. Penulis mengajukan pertanyaan mendasar: apakah mesin sungguh-sungguh berpikir, memiliki kesadaran, dan dapat dipandang sebagai subjek moral? Dengan menggunakan konsep esensi dan eksistensi, substansi dan aksiden, serta pembedaan antara entitas alami (tabi‘i) dan entitas artifisial (sina‘i), artikel ini menunjukkan bahwa AI tetap merupakan instrumen artifisial yang keberadaannya bergantung pada manusia, perangkat material, data, dan algoritma.
Menurut kajian tersebut, kemampuan AI dalam mengenali pola, mengolah data, dan menghasilkan keluaran yang tampak kreatif tidak sama dengan pemahaman sejati. Dalam perspektif Ibn Sina, kecerdasan manusia terkait dengan jiwa rasional, kesadaran diri, abstraksi universal, intuisi, serta orientasi kepada kebenaran dan kebaikan. Karena itu, AI tidak dapat memikul tanggung jawab moral; tanggung jawab etis tetap berada pada manusia—para pengembang, pengguna, institusi, dan pembuat kebijakan.
Artikel ini juga menawarkan pandangan konstruktif mengenai penggunaan AI. AI dapat membantu manusia mengurangi beban kerja instrumental dan repetitif, sehingga manusia memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan kebijaksanaan (hikmah), refleksi teoritis, dan pertimbangan etis. Dengan demikian, teknologi harus tetap berada di bawah tata kelola intelektual dan moral manusia.
Ketua STAI Sadra Jakarta, Dr. Otong Sulaeman, menyampaikan apresiasi atas publikasi tersebut. “Kolaborasi Hasan Shahab sebagai alumni dengan Dr. Cipta Bakti Gama sebagai dosen aktif Sadra merupakan capaian yang sangat membanggakan. Ini memperlihatkan bahwa relasi akademik Sadra tidak berhenti ketika mahasiswa lulus, tetapi terus berkembang menjadi jejaring keilmuan dan riset yang produktif.”
Menurutnya, publikasi pada jurnal Scopus Q1 tersebut sekaligus menegaskan bahwa atmosfer riset dan keilmuan di STAI Sadra telah bersifat internasional. “Capaian ini bukan semata kebanggaan personal penulis. Ia menunjukkan bahwa gagasan yang bertumbuh dari lingkungan akademik Sadra mampu memasuki ruang diskusi ilmiah global, khususnya pada isu yang sangat aktual: relasi antara agama, filsafat, dan kecerdasan artifisial.”
Dr. Otong menambahkan bahwa capaian ini merupakan implementasi nyata visi-misi STAI Sadra untuk mengembangkan keilmuan Islam yang mendalam, terbuka terhadap persoalan kontemporer, serta mampu berdialog secara serius dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Filsafat Islam tidak boleh hanya diperlakukan sebagai warisan masa lalu. Melalui riset seperti ini, khazanah Ibn Sina dihadirkan untuk menjawab pertanyaan mutakhir tentang AI, kemanusiaan, kesadaran, dan tanggung jawab etis. Inilah arah keilmuan Sadra: berakar kuat pada tradisi, tetapi hadir secara kritis dan relevan dalam peradaban kontemporer.”
Publikasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika STAI Sadra, khususnya mahasiswa dan alumni, untuk membangun kolaborasi lintas bidang serta menghasilkan riset yang memberi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kehidupan publik.
