Sadranews– Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta menyelenggarakan Asesmen Lapangan secara daring dalam rangka akreditasi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) pada Senin, 19 Oktober 2026. Berlangsung selama dua hari, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi program studi untuk menunjukkan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan, penguatan tata kelola akademik, serta pengembangan kualitas lulusan.
Asesmen ini menghadirkan dua asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yakni Prof. Dr. Yusuf Baihaqi, Lc., M.A. dari UIN Raden Intan Lampung dan Prof. Dr. Muh. Tasrif, M.Ag. dari Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Melalui platform zoom, kedua asesor berinteraksi dengan berbagai unsur sivitas akademika STAI Sadra, mulai dari pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, alumni, serta pengguna lulusan. Pertemuan ini menjadi bagian dari proses evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan pendidikan dan capaian mutu Program Studi IAT.
Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta himne dan mars STAI Sadra. Adapun Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir saat ini dipimpin oleh Dr. Cipta Bakti Gama sebagai ketua program studi, dengan Dr. Muhammad Shodiq sebagai sekretaris.
Dalam sambutannya Ketua STAI Sadra, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., mengatakan bahwa saat ini STAI Sadra sedang menyiapkan penambahan program studi serta rencana peningkatan status dari sekolah tinggi menjadi institut. Prodi IAT memegang peran penting dalam identitas kampus. Mahasiswa didorong mencintai Al-Qur’an sekaligus mempelajarinya secara ilmiah melalui penguasaan bahasa, ulumul Qur’an, dan metodologi tafsir. Mereka juga dilatih merumuskan pertanyaan yang baik, menimbang argumentasi, dan tetap rendah hati terhadap batas pengetahuan serta perbedaan pandangan. Para dosen Prodi ini mendalami kajian Al-Qur’an dan tafsir sekaligus filsafat. Perpaduan itu, katanya, memengaruhi cara mereka membaca sumber, merumuskan persoalan, dan mengembangkan penelitian. “Kami melihat pengayaan filosofis ini sebagai salah satu kekuatan,” ujarnya.
Dr. Otong juga memaparkan capaian dosen prodi IAT dalam setahun terakhir. Satu dosen menerbitkan artikel di jurnal terindeks Scopus Q1 sebagai penulis pertama, dosen lain menulis di Scopus Q1 sebagai penulis kedua, dan seorang dosen memperoleh hibah penelitian yang memungkinkan riset hingga ke luar negeri. Capaian itu belum tercantum dalam Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) karena terjadi setelah periode pelaporan. “Insyaallah akan kami laporkan pada akreditasi berikutnya,” katanya.
Ia turut mengapresiasi ketua dan sekretaris prodi, para dosen, tenaga kependidikan, dan panitia. Pemberitahuan asesmen datang mendadak sehingga persiapan sangat terbatas. “Dalam waktu terbatas ini teman-teman sudah luar biasa menunjukkan kinerja dan komitmennya,” ujarnya. Ia berharap asesmen menghasilkan masukan berharga bagi pengembangan prodi IAT. “Kami siap mengikuti seluruh proses dengan keterbukaan dan semangat untuk belajar,” imbuhnya.
Asesor 1 Prof. Yusuf Baihaqi menegaskan bahwa asesmen lapangan ini bagian dari sistem penjaminan mutu eksternal. Ia mengutip kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an, ketika saudara-saudara Yusuf meminta ayah mereka bertanya kepada penduduk negeri dan kafilah untuk membuktikan kejujuran.
“Kalau yang mengatakan kampus kami sudah baik itu pihak internal, mungkin orang masih bertanya-tanya. Tapi kalau BAN-PT yang menyampaikan, orang akan lebih percaya,” ujarnya.
Ia menyebut hasil asesmen bersifat terbuka sehingga masyarakat bisa mengetahui kualitas pengelolaan Prodi IAT STAI Sadra. Asesor, kata Prof. Yusuf, tidak akan keluar dari kriteria dalam instrumen akreditasi BAN-PT, yang ia samakan dengan kitab pedoman bagi pengelola prodi dan perguruan tinggi yang hendak meraih akreditasi unggul.
Prof. Yusuf mencairkan suasana dengan menegaskan bahwa asesor bukanlah penegak hukum, apalagi sosok yang menakutkan seperti “malaikat Izrail”. Ia menjelaskan bahwa kehadiran asesor bertujuan membantu program studi meningkatkan kualitas dan mengembangkan mutu akademik. “Semua dari kita senang dan bangga kalau orang yang mempelajari Al-Qur’an memajukan dan membumikan Al-Qur’an dengan kualitas yang baik,” tegasnya di hadapan Ketua dan jajaran pimpinan STAI Sadra.
Sementara Asesor 2 BAN-PT lainnya, Prof. Dr. Muhammad Tasrif, M.Ag., menjelaskan bahwa asesmen bertujuan mengonfirmasi dan melengkapi data yang telah diunggah kampus ke sistem Sapto 2. “Kegiatan hari ini posisinya adalah dalam rangka melengkapi hal-hal yang dulu belum pernah terpikirkan untuk disampaikan, tetapi setelah berjalannya waktu ternyata perlu disampaikan,” ujarnya. Dengan begitu, gambaran tentang STAI Sadra, khususnya Prodi IAT, diharapkan lebih utuh.
Usai pembukaan, asesmen berjalan di dua ruang terpisah sesuai kesepakatan kedua asesor. Prof. Yusuf akan mendalami data dalam deskripsi diri dari poin pertama hingga selesai. Sedangkan Prof. Tasrif menilai STAI Sadra sudah terbiasa menjalani asesmen lapangan sehingga proses bisa berlangsung santai. Ia berharap informasi yang terkumpul berguna bagi BAN-PT sekaligus bagi pengembangan internal kampus.
Sesi pertama mengonfirmasi penetapan misi dan akuntabilitas perguruan tinggi. Topiknya meliputi diferensiasi misi, Rencana Induk Pengembangan (RIP), pengakuan masyarakat atas keunggulan kampus, statuta, tata kelola, keuangan, hingga upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM).
Sesi berikutnya menyepakati Laporan Kinerja Perguruan Tinggi (LKPT) dan data di PD Dikti, sekaligus memastikan syarat perlu terakreditasi terpenuhi. Pembahasan lalu beralih ke relevansi pendidikan: kebijakan kurikulum, pelaksanaan dan evaluasi Outcome-Based Education (OBE), sarana-prasarana, K3 dan teknologi informasi, studi pelacakan lulusan (tracer study), serta prestasi mahasiswa.
Asesor kemudian menyoroti relevansi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM). Yang dikonfirmasi antara lain rencana strategis dan peta jalan, kesesuaian penelitian dengan misi kampus, sumber dana, publikasi ilmiah, dan keterlibatan mahasiswa.
Pada sesi budaya mutu, asesor memeriksa kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), standar perguruan tinggi, siklus PPEPP, keberlanjutan Audit Mutu Internal (AMI), serta pemenuhan dan pelampauan standar.
Asesor juga mendengar langsung dari sivitas akademika. Dari dosen, asesor menggali pelaksanaan dan evaluasi OBE, jaminan K3, jabatan fungsional, pengembangan SDM, kepuasan, dan keterlibatan dosen dalam penjaminan mutu. Dari tenaga kependidikan, yang dibahas adalah pengembangan SDM, tugas pokok dan fungsi, kompetensi, serta kepuasan.
Terakhir, asesor menggali kompetensi dan sertifikasi lulusan, tingkat kepuasan, masukan bagi kampus, serta keterlibatan alumni dalam penjaminan mutu. Alumni yang hadir adalah Risma Syahsiatun Najah (guru/pembina asrama) dan Fahmi Idrus (dai). Dari pengguna lulusan, hadir Kepala Sekolah MTs Daarul Hikmah dan Kepala Sekolah Dwi Warna.
Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) STAI Sadra, Dr. Cipta B. Gama, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Asesmen Lapangan (AL) akreditasi program studi yang dilaksanakan oleh BAN-PT.
Ia menyampaikan apresiasi kepada tim asesor atas arahan dan evaluasi yang diberikan selama proses asesmen. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Dr. Cipta berharap asesmen ini menjadi momentum bagi Prodi IAT STAI Sadra untuk terus meningkatkan mutu akademik dan mencetak generasi Qur’ani yang berilmu, berintegritas, serta memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. “Akreditasi bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen untuk terus bertumbuh dan menjaga mutu,” pungkasnya.
Asesmen lapangan ini menjadi tahap penting dalam penentuan peringkat akreditasi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Sadra. 

