Sadranews-Acara seminar berjudul “Napak Tilas dan Ziarah Spiritual di Negeri Mullah” dihadiri para narasumber: Prof. Dr, Wardah Nuroniyah, S.H.I.,M.S.I (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Hj. Atiyah Suharti.,M.Pd (Widyaiswara Utama Kementrian Agama RI), Dr. Anna Farida (Penulis Buku Pendidikan), Dra. Endang Sri Rahayu, M.Ud (Cand. Dr. Al Mustafa International University) dan Syarifah Aqilah, Ph.D (Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand).
Acara yang digelar secara offline dan online pukul 14.00 WIB di Auditorium Al Mustafa STAI Sadra tersebut dimoderatori oleh Nasrotu Rahmah, Lc dan diikuti oleh para dosen, mahasiswa dan tamu undangan, Jumat (17/5/2024) siang.
Dalam sambutannya, ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa, Prof. Dr. Hossein Mottaghi mengatakan bahwa kaum muslimin Indonesia punya tradisi kuat dalam berziarah ke makam para wali dan kekasih Allah. Salah satu wali yang diyakini akan mendatangkan keberkahan dan pertolongan dari Allah adalah berziarah ke makam cucu Nabi yang bernama Imam Ali Ridho as di kota Masyhad dan adiknya Sayyidah Fathimah Ma`shumah di kota Qom.
Ia melanjutkan, semoga rombongan para dosen dalam safari religi dan safari intelektual ke dua kota tersebut akan membawa keberkahan dalam hidup dan menumbuhkan spiritual yang tinggi dalam diri mereka sehingga sukses dalam meraih cita-cita mereka dan lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat.”Terbukti tak lama pulang dari berziarah, Prof. Dr, Wardah Nuroniyah, S.H.I.,M.S.I mendapatkan gelar professor di UIN Syarif Hidayatullah,” tegasnya.
Dalam acara ini kelima narasumber menceritakan pengalaman dan kesan spiritual yang didapatkan Ketika berziarah ke dua kota Masyhad dan Qom.
Dra. Endang Sri Rahayu, M.Ud mengatakan pada tahun 1983 dan 1984 saya menyukai tulisan-tulisan Imam Khomeini baik buku maupun majalahnya seperti Yaumul Quds yang memadukan spiritual dengan modernitas saat itu. Pada tahun 1989 pertama kali saya dapat karunia untuk berziarah ke makam Imam Ali Ridho dan Sayyidah Ma`shumah itu merasakan hal luar biasa. Saya merasakan ada koneksi spiritual meskipun belum mengenal siapa yang saya ziarahi.
“Hal lain yang terasa aneh dan mengharukan adalah ketika seluruh penumpang bus membaca shalawat saat perjalanan ke tempat ziarah dan ketika kereta api yang saya naiki berhenti dan seluruh penumpangnya shalat. Hal ini sangat menggetarkan hati,” kata Dra. Endang.
Prof. Dr, Wardah Nuroniyah, S.H.I.,M.S.I menyampaikan bahwa berkunjung dan berziarah ke makam para wali itu untuk mengambil pelajaran dan memperoleh keberkahan. Karena itu, saya memutuskan untuk ikut pergi berziarah ke Iran. Dalam hidup saya ini ada tiga hal yang menyejukkan batin yang tak dapat diungkapkan dengan kata. Yaitu, kembali ke pelukan ibu, berada di Raudhah saat menziarahi Nabi Muhammad saw dan berziarah ke makam cucu Nabi ini. Entah mengapa saya merasakan suasan batin dan getaran hati dan cinta yang luar biasa saat berziarah, padahal saya juga tidak mengenal dua sosok mulia tersebut. Yang pasti keduanya orang saleh yang dicintai Allah sehingga dicintai orang-orang dari berbagai negara yang datang menziarahinya.
“Kekaguman saya adalah sulit dijumpai di dunia ini sosok wanita yang telah lama wafat tapi makamnya hingga kini terus didatangi oleh manusia lintas gender, agama dan negara. Saya merasa doa saya di sana dikabulkan sehingga proses menjadi profesor diperlancar,” tutur Prof. Wardah.
Dr. Hj. Atiyah Suharti.,M.Pd mengutarakan kekagumannya terhadap tata Kelola komplek Rezawi Haram Imam Ali Ridho dari mulai masjid, serambi, halaman, musium, perpustakaan dan pusat-pusat pengembangan ilmu dan kajian seminar. Secara arsitektur makam beliau betul-betul luar biasa yang disertai panduan buku ziarah telah membawa kita kepada kehidupan beliau yang penuh perjuangan, tantangan dan ketakwaan. Begitu juga dengan sosok Sayyidah Ma`shumah yang berjuang dengan berjalan kaki menyusul kakaknya namun langkahnya harus terhenti dan wafat di kota Qom. Kini makamnya menjadi tempat orang-orang berdoa dan mengambil inspirasi.
“Saya jadi teringat saat berziarah ke makam Nabi saw merasakan suasana spiritual yang luar biasa. Bedanya, di Raudhah saat menziarahi Nabi saw kita diburu-buru tapi di makam cucunya di Masyhad kita bisa sepuas hati berziatah, berdoa dan menyampaikan seluruh hajat kita kepada Allah dengan wasilah cucu Nabi ini,” ungkap Dr. Atiyah.
Dr. Anna Farida menjelaskan mengapa Imam Ridho yang sudah meninggal seperti masih hidup yang bisa menghidupkan jiwa, spiritual dan bahkan perekonomian masyarakat kota tersebut. Karena beliau adalah seorang pejuang berilmu luas dan kekasih Allah, lantaran ibadah serta ketakwaannya yang luar biasa. Seorang wali yang semula hanya saya baca dalam buku tentang ketokohan dan kebesarannya tampak nyata tatkala saya berziarah langsung ke makamnya. Selain merasakan getaran hati dan suasana spiritual yang luar biasa juga keramaian penziarah yang tak ada habisnya. Bagimana mereka menunjukkan keikhlasan, kecintaan dan kerinduan mereka saat berziarah di hadapan makam beliau.
“Saya dulu tidak tertarik untuk belajar bahasa Persia tapi setelah datang berziarah dan melihat langsung bagaimana kehidupan spiritual dan intelektual di Iran, khususnya terkait perjuangan dan kebesaran dua sosok kakak beradik ini, saya menjadi tertarik,” jelas Dr. Anna.
Syarifah Aqilah, Ph.D mengatakan bahwa safari religi dan berziarah ke makam dua tokoh mulia itu merupakan panggilan ilahi di luar kalkulasi masnuia. Sebuah kata yang tidak terbayang di benak sebelumnya dan saya merasa belum pantas untuk mendapatkan hal Istimewa itu. Ditambah, aktivitas keseharian saya yang di luar bidang keagamaan dan keruhaniahan. Di luar dugaan, Ketika saya bingung harus menyiapkan perlengakapan yang tidak ada untuk bepergian, ternyata ada teman Katolik yang dengan tulus menyiapkan perlengkapan tersebut sehingga saya bisa berangkat berziarah.
“Kemudia waktu berziarah ke makam Imam Ridho, saya masih merasa tidak percaya masuk dalam rombongan orang-orang yang mendapat panggilan ilahi ini dan di depan makam beliau saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepadanya. Keharuan bercampur kebahagiaan serasa dalam kasih sayang dan pelukan yang begitu hangat tapi bukan oleh orang tua atau keluarga,” ujar Aqilah.
Cerita safari religi dan safari intelektual dari Ibu-Ibu Dosen tersebut membuat suasana acara berlangsung khidmat dan membuat para hadirin antusias menyimak. Tak terasa, air mata para hadirin menetes lantaran terharu dan tersentuh mendengar pengalaman dan kesan spiritual yang disampaikan langsung oleh para narasumber. Puncaknya saat kata-kata, “Kita belum kenal siapa yang kita ziarahi tapi terasa ada panggilan ilahi, hati bergetar dan muncul rasa cinta, rindu, damai dan bahagia begitu kuat di dalam hati seakan tak ingin berpisah dari keduanya saat berziarah ke dua makam suci tersebut,” disampaikan oleh para narasumber dengan penuh keharuan dan mata berkaca-kaca.

