Sadranews— Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan tinggi, Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (MAFI) STAI Sadra menegaskan satu sikap tegas: modern dalam tata kelola, kokoh dalam tradisi keilmuan. Pesan inilah yang mengemuka dalam Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) Semester Genap 2026 yang digelar secara daring, Selasa (24/2), pukul 13.30 WIB.
Kegiatan ini tak sekadar menjadi agenda pengenalan akademik bagi mahasiswa baru. Lebih dari itu, OPAK menjadi forum penegasan identitas dan posisi strategis STAI Sadra dalam lanskap studi filsafat Islam di Indonesia.
Mewakili Ketua STAI Sadra, Wakil Ketua I Bidang Akademik, Ammar Fauzi, Ph.D., menyoroti fenomena yang dinilainya menggembirakan. Sejak 2018, mayoritas mahasiswa magister yang menempuh studi di kampus ini tidak lagi berorientasi pada ijazah semata, melainkan pada penguatan karier dan kedalaman keilmuan. “Filsafat Islam adalah identitas utama kita,” tegas Ammar.
Ia menjelaskan, kekuatan Prodi MAFI terletak pada penjagaan tradisi pembelajaran klasik seperti sorogan dan kesinambungan sanad keilmuan yang tersambung kepada para pemikir besar—dari Al-Farabi hingga Mulla Sadra. Tradisi ini dipadukan dengan kurikulum yang menempatkan metafisika (Falsafah al-Ula) sebagai inti kajian, sembari membuka ruang dialog komparatif lintas disiplin dan lintas zaman.
Senada dengan itu, Kaprodi MAFI, Dr. Benny Susilo, Ph.D., menegaskan bahwa struktur kurikulum dirancang sebagai jembatan antara fondasi klasik dan tantangan kontemporer. Mahasiswa tidak hanya diasah dalam logika dan studi teks, tetapi juga didorong memasuki ranah filsafat praktis—mulai dari Filsafat Politik, Hukum, hingga Pendidikan.
“Tesis bukan sekadar syarat administratif. Ia adalah puncak intelektual untuk mendialogkan tradisi filsafat Islam dengan persoalan aktual dunia,” ujar Benny, menekankan pentingnya kontribusi ilmiah yang relevan dengan zaman.
Struktur tata kelola program studi turut dipaparkan secara komprehensif oleh Sekretaris Prodi, Hadi Kharisman, Ph.D. Ia menjelaskan peran Ketua Prodi dalam perumusan kebijakan akademik dan pengembangan kurikulum, Sekretaris Prodi dalam koordinasi operasional, serta Kepala Biro Akademik dalam pengelolaan administrasi perkuliahan.
“Sistem ini bukan sekadar pembagian tugas, tetapi mekanisme untuk menjaga kualitas pendidikan,” tegasnya.
Pada aspek penelitian, Wakil Ketua III Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Basrir Hamdani, Ph.D., merinci tiga tahapan utama penyusunan tesis: Seminar Proposal sebagai forum uji rancangan riset, Bimbingan Akademik melalui pendampingan intensif dosen pembimbing, serta Ujian Tesis dan Yudisium sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah sebelum kelulusan ditetapkan. Setiap tahap dirancang untuk memastikan tesis yang dihasilkan memiliki bobot metodologis dan kontribusi akademik yang memadai.
Aspek manajerial pun tak luput dari pembahasan. Nur Mahdyah Zahra, S.E., memaparkan mekanisme kewajiban finansial berbasis prinsip transparansi. Sementara itu, Wahyudi Tianotak, M.A., selaku Kepala Biro Akademik, menguraikan alur layanan mahasiswa—mulai dari pengisian KRS, akses KHS, hingga proses penerbitan ijazah. “Ketertiban administrasi bukan sekadar urusan teknis, melainkan cerminan tanggung jawab akademik mahasiswa,” ujarnya.
Melalui OPAK ini, Prodi Magister Aqidah dan Filsafat Islam STAI Sadra kembali meneguhkan komitmennya: mengembangkan tradisi filsafat Islam berbasis teks, sanad, dan kedalaman metodologis, sekaligus memperkuat tata kelola akademik yang profesional dan terintegrasi.
Bagi para mahasiswa baru, pesan itu jelas bawha menempuh studi di MAFI bukan hanya soal menyelesaikan perkuliahan, tetapi memasuki disiplin intelektual yang menuntut ketekunan, kedisiplinan, serta keberanian berpikir filosofis secara mendalam.
