Sadranews— STAI Sadra menggelar Workshop Penyempurnaan Kurikulum tahun 2026 dengan tema “Sinkronisasi Dokumen Akademik dengan Standar Akreditasi Unggul dan Internasional”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 1–2 April 2026, di ruang sidang lantai 2 kampus dan diikuti oleh pimpinan serta dosen lintas program studi.
Workshop dibuka pukul 08.00 WIB dan difokuskan pada evaluasi serta penguatan kurikulum sejumlah program studi S1, di antaranya Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dan Psikologi Islam, serta Program S2 Magister AFI. Selain evaluasi, forum ini juga membahas penyempurnaan kurikulum, laporan progres, arah kebijakan akademik dari wakil ketua bidang akademik, hingga monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan program.
Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Hikmat Al-Mustafa, Prof. Dr. Hossein Mottaghi menekankan pentingnya proses panjang dan kompleks dalam pengembangan program studi, khususnya yang terintegrasi dengan sistem akademik global. Ia mengisahkan pengalaman dalam merintis program Islamic Studies multibahasa yang sempat menghadapi kendala birokrasi dan legalitas.
“Prosesnya tidak sederhana. Harus melalui senat keilmuan, bagian akademik, hingga kementerian untuk mendapatkan izin. Sebab, tanpa legalitas, program tidak bisa berjalan, dosen tidak digaji, dan ijazah tidak dapat diterbitkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penyusunan kurikulum seperti yang dilakukan dalam workshop ini menjadi langkah krusial untuk memastikan kesesuaian dengan standar lembaga, apalagi idealisme internasional sekaligus memenuhi regulasi nasional.
Menurutnya, STAI Sadra berada dalam posisi unik karena harus mengharmoniskan dua sistem sekaligus: standar internasional dan regulasi nasional dari Kementerian Agama. “Kampus ini lintas bangsa, sehingga harmonisasi menjadi kunci agar kemajuan akademik tetap sejalan dengan aturan yang berlaku,” katanya.
Sementara itu, Ketua STAI Sadra, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., dalam sambutannya mengungkapkan dinamika kepemimpinan yang dihadapinya selama 15 bulan terakhir, termasuk tantangan pribadi dan institusional. Ia menegaskan pentingnya komitmen untuk terus mempertahankan dan mengembangkan institusi di tengah berbagai kondisi.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa terdapat ekspektasi besar dari berbagai pihak agar STAI Sadra mampu menjadi institusi pendidikan yang berkontribusi dalam pembangunan peradaban di Indonesia. Hal ini, menurutnya, harus ditopang oleh kurikulum yang kuat, adaptif, dan diakui secara internasional.
“Kita memiliki potensi besar, baik dari sisi keilmuan, kecerdasan, maupun model kurikulum. Tinggal bagaimana semua itu disusun secara sistematis dan terstandar agar memberikan dampak nyata,” tegasnya.
Penyempurnaan kurikulum merupakan langkah penting untuk menyamakan pemahaman tentang capaian pembelajaran. Seiring dengan tuntutan dunia kerja dan standar mutu yang terus berkembang, kurikulum perlu diperbarui agar tetap relevan, mendukung masa studi yang efisien, serta menghasilkan lulusan yang siap bersaing.
Workshop ini menjadi momen yang tepat untuk memastikan tidak ada lagi kesalahpahaman terkait capaian pembelajaran. Dengan dokumen formal yang kuat dan terarah, program studi dapat menjembatani standar akademik nasional dan internasional, sekaligus memperkuat posisinya dalam proses akreditasi dan di dunia kerja.
Workshop ini diharapkan menghasilkan rumusan kurikulum yang tidak hanya memenuhi standar akreditasi unggul, tetapi juga mampu menjawab tantangan global serta kebutuhan masyarakat Indonesia di masa depan.

