Sadranews— Program Studi Psikologi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menjalani Asesmen Lapangan (AL) dalam rangka akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang berlangsung secara daring pada 3–5 Juli 2026 itu menjadi bagian dari proses evaluasi menyeluruh terhadap kualitas penyelenggaraan program studi.
Asesmen Lapangan dilakukan oleh dua asesor BAN-PT, Prof. Dr. Seger Handoyo dari Universitas Airlangga dan Prof. Dr. Erika Setyanti Kusumaputri dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Turut mengikuti kegiatan tersebut Waka II. Bidang Kemahasiswaan Dr. Hasyim Adnani, MA, Waka III. Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Basrir Hamdani, Ph.D., Ketua Program Studi Psikologi Islam Dr. Muhammad Alwi, MM, Sekretaris Program Studi Dr. Zainal Abidin, M.Ud, jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, baik secara luring maupun daring.
Pada sesi pembukaan, pimpinan STAI Sadra memperkenalkan seluruh unsur sivitas akademika yang terlibat dalam proses asesmen. Pelaksanaan asesmen berlangsung sesuai jadwal BAN-PT dengan komitmen bersama untuk menjaga integritas, objektivitas, serta mematuhi seluruh ketentuan dan kode etik akreditasi.
Ketua STAI Sadra Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., yang menyampaikan sambutan melalui rekaman suara karena tengah menjalankan agenda akademik dan kelembagaan di luar negeri bersama Waka 1 Bidang Akademik Amar Fauzi, Ph.D., menegaskan bahwa asesmen lapangan merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi kelembagaan secara menyeluruh.
Ia mengatakan proses akreditasi tidak semata-mata menjadi penilaian administratif, melainkan kesempatan bagi institusi untuk melakukan refleksi atas capaian yang telah diraih sekaligus mengidentifikasi berbagai aspek yang masih perlu diperbaiki.
“Kami memandang asesmen lapangan sebagai bagian dari proses ‘muhasabah’ kelembagaan. Ini adalah kesempatan bagi institusi untuk bercermin secara jujur, melihat capaian yang telah diraih, mengakui berbagai kekurangan, sekaligus menyusun langkah-langkah perbaikan ke depan,” ujarnya.
Menurut Dr. Otong, tradisi intelektual Islam mengajarkan bahwa kemajuan selalu diawali dengan keberanian mengevaluasi diri. Karena itu, STAI Sadra menyambut asesmen lapangan sebagai proses pembelajaran, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Ia menegaskan, perguruan tinggi yang berkualitas bukanlah institusi yang mengklaim diri telah sempurna, melainkan yang memiliki komitmen untuk terus melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim asesor BAN-PT yang dinilainya tidak hanya berperan sebagai evaluator, tetapi juga mitra strategis dalam memberikan masukan bagi pengembangan institusi. “Kritik yang konstruktif jauh lebih berharga daripada pujian yang membuat kami cepat berpuas diri,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan STAI Sadra kini tengah memasuki fase transformasi kelembagaan dengan menitikberatkan pengembangan pada peningkatan mutu, relevansi, dan dampak pendidikan bagi masyarakat. Perguruan tinggi tersebut menargetkan diri menjadi pusat pengembangan filsafat, pemikiran Islam, dan ilmu-ilmu sosial keislaman yang mampu berdialog secara kreatif dengan tantangan zaman.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga melahirkan insan yang berpikir kritis, bijaksana, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. “Tujuan akhirnya adalah membangun kembali peradaban Islam yang bermartabat,” ujarnya.
Dalam pengembangan institusi tersebut, Program Studi Psikologi Islam ditempatkan sebagai salah satu pilar utama. Dr. Otong menilai meningkatnya persoalan kesehatan mental, krisis makna hidup, alienasi, hingga melemahnya relasi sosial menuntut hadirnya pendekatan psikologi yang lebih komprehensif.
Ia menegaskan pengembangan Psikologi Islam di STAI Sadra tidak sekadar mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis ke dalam teori psikologi modern, melainkan membangun perspektif yang utuh mengenai manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, sosial, intelektual, dan spiritual. “Kami ingin melahirkan psikolog Islam yang bukan hanya memahami perilaku manusia, tetapi juga memahami makna kemanusiaan itu sendiri,” katanya.
Menutup sambutannya, Dr. Otong mengapresiasi seluruh sivitas akademika Program Studi Psikologi Islam yang telah mempersiapkan asesmen lapangan dan berharap proses tersebut berlangsung secara objektif, terbuka, serta menghasilkan rekomendasi yang dapat mendorong peningkatan mutu program studi maupun institusi.
Sementara itu, Ketua Tim Asesor BAN-PT Prof. Dr. Seger Handoyo menjelaskan asesmen lapangan merupakan tahapan lanjutan setelah Program Studi Psikologi Islam dinyatakan memenuhi syarat pada asesmen kecukupan dalam proses akreditasi. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar meski dilaksanakan secara daring. “Semoga proses Asesmen Lapangan berjalan tanpa kendala, terutama dari sisi jaringan internet, sehingga seluruh tahapan verifikasi dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Prof. Seger menjelaskan proses asesmen dilakukan berdasarkan instrumen akreditasi yang berlaku. Tahapan diawali dengan verifikasi data kuantitatif melalui Laporan Kinerja Program Studi (LKPS), kemudian dilanjutkan dengan pendalaman aspek-aspek kualitatif sebagai dasar penilaian akhir terhadap mutu penyelenggaraan Program Studi Psikologi Islam.

