Dari Diplomasi hingga Geopolitik Timur Tengah, TalkShow STAI Sadra Kupas Tantangan Kepemimpinan Global

Sadranews– STAI Sadra menggelar TalkShow Akademik bertema “Kepemimpinan, Pemikiran, Geopolitik, dan Timur Tengah” secara luring dan daring di Auditorium Al Mustafa, Kamis (9/7/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan hari pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei itu diikuti mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta tamu undangan sebagai ruang refleksi akademik mengenai kepemimpinan, dinamika politik Timur Tengah, dan isu-isu strategis dunia Islam.

Acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Talkshow ini menghadirkan Ketua STAI Sadra Dr. Otong Sulaeman, mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016 Dian Wireng Jurit, dan pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf sebagai narasumber. Kegiatan dipandu Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Sadra, Dr. Cipta Bakti Gama.

Mewakili Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa, Wakil Ketua II Bidang Kemahasiswaan STAI Sadra Dr. Hasyim Adnani menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan. Kampus, menurutnya, harus melahirkan generasi yang berintegritas, berani mengambil sikap, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan umat. “Momentum ini hendaknya menjadi penguat semangat belajar sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Mengawali talkshow, Dr. Cipta Bakti Gama mengajak peserta memandang kepemimpinan tidak hanya sebagai jabatan, melainkan warisan nilai yang memberi pengaruh lintas generasi. Menurutnya, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei meninggalkan jejak kepemimpinan yang dibangun di atas keberanian membela kebenaran, menjaga kemerdekaan, serta menolak segala bentuk kezaliman. “Seorang pemimpin dikenang bukan semata karena kekuasaan yang dimiliki, tetapi karena nilai dan perjuangan yang diwariskannya,” katanya selaku host.

Dalam perbincangannya, Dian Wireng Jurit mengulas perubahan konstelasi politik Timur Tengah dari sudut pandang diplomasi. Ia menjelaskan dinamika hubungan antarnegara di kawasan berubah sangat cepat. Sejumlah negara yang sebelumnya berseberangan dengan Israel mulai membuka hubungan diplomatik, menunjukkan bahwa kepentingan nasional kerap menjadi pertimbangan utama dalam politik internasional.

Ia juga mempertanyakan efektivitas organisasi-organisasi internasional, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dalam merespons konflik yang terus berlangsung di kawasan. “Berbicara mengenai daya ungkit diplomasi, maka pertanyaannya adalah seberapa relevan organisasi-organisasi seperti OKI dalam menghadapi realitas politik hari ini dan menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di kawasan,” ujarnya.

Menurutnya, kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola pemerintahan, tetapi juga dari konsistensi memegang prinsip di tengah tekanan politik internasional. Ia menilai kesederhanaan, integritas, keberanian mengambil keputusan, dan kedekatan dengan masyarakat merupakan karakter yang melekat pada kepemimpinan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Ia pun mengajak mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan melalui proses menuntut ilmu, membangun akhlak, menjaga integritas, dan berani berpihak pada kebenaran.

Sementara itu, Faisal Assegaf menjelaskan posisi strategis Iran dalam percaturan geopolitik Timur Tengah. Menurutnya, kawasan tersebut dipengaruhi negara-negara yang memiliki posisi historis dan politik penting. Arab Saudi berpengaruh sebagai penjaga dua kota suci umat Islam, Yordania memegang peran dalam pengelolaan situs-situs suci di Yerusalem Timur, Turki memiliki warisan Kesultanan Utsmaniyah, sedangkan Iran memainkan peran yang semakin besar sejak Revolusi Islam 1979.

Faisal menjelaskan terdapat tiga isu utama yang membentuk posisi Iran, yakni penjajahan Israel terhadap Palestina, sikap ideologis Iran yang menolak Zionisme, serta rivalitas geopolitik Iran dan Arab Saudi. Menurutnya, Iran merupakan satu-satunya negara Muslim yang secara konsisten tidak mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara. Dukungan terhadap Palestina, lanjutnya, tidak hanya disampaikan melalui pernyataan politik, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai bentuk dukungan nyata. Ia membandingkan sikap tersebut dengan sejumlah negara Muslim lain yang dinilainya lebih banyak memberikan dukungan pada level diplomatik. Bahkan, meskipun Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kerap mengkritik Israel, hubungan diplomatik Ankara dengan Tel Aviv tetap berlangsung.

“Tak mengherankan jika prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dihadiri puluhan juta pelayat dari berbagai negara, latar belakang, dan keyakinan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua STAI Sadra Dr. Otong Sulaeman menyampaikan pandangannya melalui rekaman video dari Iran. Ia menggambarkan besarnya penghormatan masyarakat Iran kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai cerminan hubungan emosional dan spiritual yang telah terbangun selama puluhan tahun antara pemimpin dan rakyatnya.

Menurutnya, berbagai prediksi yang menyebut Iran akan mengalami kemunduran pascaserangan Amerika Serikat dan Israel tidak terbukti. Di tengah tekanan militer, embargo, dan sanksi ekonomi, pemerintahan tetap berjalan, kehidupan masyarakat berlangsung normal, dan institusi negara masih mampu menjalankan fungsinya. Ia menilai banyak analisis mengenai Iran dibangun dari sudut pandang luar tanpa memahami kondisi sosial, budaya politik, dan karakter masyarakatnya secara utuh. Karena itu, ia mengajak kalangan akademisi mengkaji persoalan Timur Tengah secara objektif dan kritis berdasarkan pendekatan ilmiah, bukan semata bertumpu pada opini ataupun pemberitaan media.

TalkShow Akademik ditutup dengan pesan kepada generasi muda agar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter kepemimpinan yang berlandaskan kejujuran, kesederhanaan, integritas, keterbukaan, serta tanggung jawab sosial sebagai bekal menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Abdullah Uraidhi, Ph.D., dan berlangsung dengan khidmat.

 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top