Dr. Abbaci: Lapar, Dahaga dan Menahan Diri dari Kenikmatan Duniawi Sarana Meraih Lailatul Qadar

Sadranews-Dalam mengisi kajian di hari ke tujuh belas bulan suci Ramadhan, Dr. Abdelaziz Abbaci terkait ayat ke tiga dan empat surat ad Dukhan dan surat al Qadar menjelaskan tentang pentingnya sesuatu yang diturunkan oleh Allah di malam mulia Lailatul Qadar, bahkan menyangkut hal-hal yang dibutukan manusia dan semua makhluk. Dalam surat ad Dukhan disebutkan “Lailatun Mubarakah” yaitu malam dengan kebaikan yang melimpah. Karena itu sangat merugi orang-orang yang melewatkan malam mulia ini begitu saja. Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga Allah menyiapkan dua bulan suci dan agung sebelumnya yaitu Rajab (bulan Allah) dan Sya`ban (bulan Rasulullah saw) sebagai pengantar untuk memasuki Ramadhan (bulan umat Nabi saw). Allah menyiapkan untuk hamba-hambaNYa sejak awal Rajab, lalu Sya`ban hingga Lailatul Qadar supaya mereka bisa mempersiapkan diri dengan membersihkan diri dan menyibukkan diri dengan ibadah guna menampung dan memperoleh kebaikan dan kemuliaan yang diturunkan Allah.

Beliau melanjutkan, pada bulan Ramadhan sendiri itu ada tiga tahapan penting yaitu sepuluh hari pertama wadah kita harus bersih. Sepuluh hari kedua wadah kita harus lebih bersih dan lebih lagi sampai pada puncaknya di sepuluh hari ketiga. Di tahap inilah Allah menyiapkan jamuan kepada para tamuNya berupa rasa lapar, dahaga dan menahan diri dari segala kenikmatan dunia. Tentu, jamuan Allah ini sangat jauh berbeda dengan jamuan manusia yang penuh dengan hidangan makanan dan minuman yang sangat lezat dan kenikmatan yang memuaskan. Sebab, justeru  dengan jamuan Allah berupa lapar, dahaga dan menahan diri dari kenikmatan duniawi akan membersihkan jiwa dan menjadikannya tumbuh dengan kuat. Jika makanan sehat dan lezat membuat tubuh menjadi lebih baik maka hidangan Allah berupa lapar, dahaga dan menahan diri dari kenikmatan ini akan membuat jiwa dan ruh kita menjadi sempurna. Jadi, dari sejak awal bulan Rajab hingga bulan Ramadhan manusia harus melakukan proses membersihkan dan membina diri agar dengan wadah yang siap dan bersih berupa hati, jiwa dan pikiran yang bersih manusia bisa mendapatkan karunia, kemuliaan dan kebaikan yang melimpah yang Allah turunkan di malam Lailatul Qadar.

Beliau menambahkan, ada relasi kausalitas antara langit dan bumi berupa prinsip kesesuaian. Sesuatu yang suci membutuhkan wadah yang suci pula, sebab wadah yang tidak suci tidak bisa menampung pemberian yang suci. Artinya hanya wadah suci di bumi lah yang bisa menerima pemberian-pemberian dari langit yang suci oleh Sang Maha Suci. Karena itu jihad melawan hawa nafsu dengan kondisi lapar dan dahaga akan membersihkan noda-noda yang menghalangi manusia dalam mendapatkan karunia Allah. Mengapa ada doa manusia yang tidak dikabulkan dan mengapa ada orang yang tidak mendapat karunia Allah. Jawabannya adalah karena orang itu tidak siap atau tidak membuka penghalang-penghalang pada dirinya yang selama ini menghalanginya dari karunia dan terkabulkannya doa. Berpuasa, membaca Al Quran dan menjalankan ibadah lainnya utamanya bukan untuk mendapatkan pahala, sebab pahala itu ibarat anak kecil hanya sebagai hadiah yang dijanjikan. Jadi, ibadah ini hanya sebuah sarana yang tujuannya adalah untuk menyiapkan wadah yang bersih pada diri manusia. Mengapa hati Nabi Muhammad saw dapat menampung Al Quran karena hati beliau sudah dipersiapkan menjadi wadah yang suci. Mendapatkan Lailatul Qadar tidak berarti kita menunggu kapan tiba waktunya dan kapan Allah memberikan karunia itu. Mendapatkan Lailatul Qadar adalah kita mempersiapkan diri sejak awal bulan Rajab dan melakukan usaha untuk menjemputnya.

“Dalam sejarah disebutkan bahwa Rasulullah saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau melipat tempat tidurnya dan menyiapkannya di samping masjid dan beliau juga idak pernah meninggalkan sunnah-sunnah dan i`tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini menandakan bahwa beliau sangat menganggap penting bagiamana meningkatkan ibadah untuk menjemput Lailatul Qadar dengan berbagai macam amalan,” tegas Dr. Abbaci dalam menerangkan cara dan pentingnya mendapatkan Lailatul Qadar di hadapan mahasiswa, dosen dan karyawan Yayasan Hikmat Al Mustafa pada kajian Ramadhan di masjid Al Mustafa, Kamis (28/3/2024) siang.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top