Sadranews— Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menggelar webinar bertajuk “Membangun SDM Unggul di Era 4.0” pada Jumat (21/8/2026) pagi. Webinar yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting sejak pukul 09.00 WIB tersebut membedah konsep manusia unggul dari tiga perspektif: Al-Qur’an, filsafat, dan psikologi.
Webinar kali ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Abdullah Abdul Kadir, M.A.; Ketua Program Studi Psikologi Islam, Dr. Muhammad Alwi, S.Psi., M.M.; serta Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Cipta Bakti Gama, M.Ud., dengan moderator WaOde Zaenab Zilullah T, Ph.D.
Dari perspektif psikologi, Muhammad Alwi menilai persaingan di era digital bukanlah pertarungan antara manusia dan AI. Persaingan justru terjadi antara manusia dengan manusia lain yang lebih mampu memanfaatkan teknologi. Karena itu, literasi digital, menurut Alwi, telah menjadi kebutuhan mendasar bagi berbagai kalangan, mulai dari pendidik dan mahasiswa hingga pekerja di berbagai bidang.
“Kemudahan memperoleh informasi juga tidak lantas membuat kemampuan berpikir menjadi kurang penting. Sebaliknya, ketika jawaban dapat ditemukan hanya dengan mengetikkan sebuah pertanyaan, kemampuan berpikir kritis justru semakin dibutuhkan.” ujarnya.
Menurutnya, yang membedakan seseorang, bukan seberapa banyak informasi yang dikuasai, melainkan kemampuannya mempertanyakan sumber informasi, menilai bukti, dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Selain berpikir kritis, ia menekankan pentingnya kecerdasan sosial dan kemampuan beradaptasi. Dua kemampuan tersebut dinilai sulit digantikan oleh mesin. Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti berjualan. Di dalamnya terdapat proses belajar membaca karakter orang lain, menghadapi penolakan, membangun komunikasi, hingga mendapatkan kepercayaan. Muhammad Alwi juga menggarisbawahi pentingnya growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan manusia dapat terus dikembangkan melalui proses belajar. Di samping itu, ada resiliensi atau kemampuan untuk bertahan dan bangkit menghadapi kegagalan.
Menurutnya, kegagalan justru menjadi salah satu ujian untuk melihat kualitas seseorang. Keunggulan tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari usaha dan proses yang konsisten. “Keunggulan manusia tidak dipersempit pada capaian akademik, jabatan, maupun penghasilan. Kebahagiaan, kesehatan hubungan sosial, integritas, dan kebermaknaan hidup juga menjadi bagian penting dari ukuran manusia yang unggul,” tegasnya.
Persoalan manusia di tengah derasnya arus informasi kemudian dilihat Abdullah Abdul Kadir dari perspektif akidah dan filsafat Islam. Menurutnya, era 4.0 menghadirkan arus informasi yang ibarat pisau bermata dua. Informasi dapat memperluas wawasan, tetapi pada saat yang sama dapat menyesatkan jika seseorang tidak memiliki kemampuan memilah kebenaran dan kekeliruan. Salah satu fenomena yang ia soroti adalah maraknya konten keagamaan berdurasi singkat di media sosial. Potongan ceramah beberapa menit sering kali dianggap cukup untuk memahami persoalan agama secara utuh.
“Pengetahuan agama membutuhkan proses belajar yang sistematis. Pemahaman yang hanya bertumpu pada potongan informasi berisiko membuat seseorang mengenal persoalan sebatas permukaannya. Di tengah kondisi tersebut, akidah berfungsi sebagai fondasi agar manusia tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan beragam pandangan tentang agama, moralitas, dan kehidupan, “ ungkapnya.
“Sementara filsafat mengajak manusia mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai hakikat keberadaan, tujuan hidup, hingga bagaimana pengetahuan diperoleh dan dapat dipertanggungjawabkan,” imbuhnya.
Ia juga membedakan karakter informasi di media sosial dengan pendidikan di dunia akademik. Media sosial cenderung menyajikan informasi secara singkat dan mudah dicerna, sedangkan dunia akademik menuntut proses yang lebih panjang: membaca sumber, membandingkan argumen, menguji pemikiran, dan mempertanggungjawabkan keyakinan yang diambil.
Pemahaman terhadap keragaman pemikiran, lanjutnya, juga dapat menjadi jalan menuju sikap toleran. Toleransi tidak berarti menganggap seluruh pandangan benar, tetapi menyadari bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang harus dihadapi secara dewasa. Sikap ini menurutnya, penting dimiliki calon pemimpin. Pemimpin membutuhkan cara pandang yang luas, kebijaksanaan, serta kemampuan memperlakukan masyarakat dari berbagai latar belakang secara adil.
Perspektif yang lebih mendasar disampaikan Cipta Bakti. Ia mempertanyakan kembali istilah “sumber daya manusia” yang selama ini lazim digunakan untuk menggambarkan manusia dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Menurut Cipta, istilah tersebut lahir dari cara pandang yang menempatkan manusia sebagai resource atau sumber daya. Pandangan itu dinilai perlu dikaji ulang ketika berbagai jenis pekerjaan mulai dapat dilakukan atau diambil alih oleh mesin.
Ia kemudian memetakan tiga bentuk disrupsi yang dihadapi manusia. Pertama, disrupsi struktural, yang ditandai dengan semakin lebarnya kesenjangan antara mereka yang menguasai teknologi dan mereka yang hanya menjadi objek teknologi. Kedua, disrupsi epistemik, ketika algoritma bekerja dengan mengutamakan perhatian pengguna, sementara perhatian tidak selalu identik dengan kebenaran. Ketiga, disrupsi batin, ketika kehidupan yang semakin terkoneksi justru dapat menggerus konsentrasi, kedalaman berpikir, dan kemampuan manusia untuk berhenti sejenak dari derasnya arus informasi. Namun, Cipta mengingatkan bahwa teknologi, algoritma, regulasi, hingga sistem pendidikan pada dasarnya merupakan produk manusia. Karena itu, akar persoalan sekaligus kunci untuk mengatasinya tetap berada pada kualitas manusia.
Dari perspektif Al-Qur’an, ia memaparkan empat gambaran tentang manusia unggul.
Pertama, manusia sebagai khalifah, yakni pemegang amanah untuk menghadirkan kebaikan di muka bumi. Kedua, manusia sebagai makhluk yang memiliki ruh sekaligus akal. Keduanya tidak semestinya dipertentangkan, tetapi perlu berjalan beriringan sehingga rasionalitas tidak kehilangan dimensi spiritual. Ketiga, manusia sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi. Tanggung jawab itu tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia dan seluruh makhluk hidup. Keempat, konsep ulul albab, yakni manusia yang memiliki kejernihan akal sehingga mampu mendengar berbagai pendapat, menimbangnya, kemudian memilih yang terbaik.
“Dalam konteks era digital, konsep ulul albab menjadi relevan karena manusia tidak seharusnya hanya menjadi konsumen pasif dari apa yang disodorkan algoritma. Ulul albab menyatukan fikir dan zikir. Dari perpaduan itu lahir karakter dan integritas, seperti menepati janji, bersabar, peduli terhadap sesama, serta membalas keburukan dengan kebaikan,” pungkasnya.

