OPAK MAFI STAI Sadra Bangun Paradigma Keilmuan Berbasis Tradisi Hikmah dan Tantangan Kontemporer

Sadranews— Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta menggelar Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) bagi mahasiswa baru Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (MAFI) Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang digelar secara daring pukul 14.00 WIB melalui Zoom Meeting tersebut mengangkat tema “Reaktualisasi Tradisi Hikmah: Membangun Cendekiawan Muslim yang Kritis, Reflektif, dan Transformatif.” OPAK menjadi bagian dari pengenalan awal bagi mahasiswa baru untuk memahami sistem akademik, kurikulum, tata tertib, hingga alur administrasi yang berlaku di Program Studi MAFI STAI Sadra.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua STAI Sadra, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., mengajak mahasiswa baru memahami lebih dalam alasan pentingnya mempelajari filsafat di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.Ia membuka dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa kita harus belajar filsafat?”

“Pertanyaan tersebut semakin relevan di tengah kehidupan yang dipenuhi arus informasi. Kemajuan teknologi dan derasnya informasi tidak selalu membuat manusia lebih mudah menemukan kebenaran. Sebaliknya, manusia justru menghadapi tantangan untuk membedakan fakta, opini, kebohongan, dan kebenaran,” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan manusia saat ini juga semakin kompleks dan berbeda dari persoalan yang dihadapi para filosof besar Islam seperti Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Mulla Sadra. Kecerdasan buatan, krisis lingkungan, kekerasan, ketimpangan sosial, peperangan, hingga berbagai persoalan kemanusiaan merupakan tantangan baru yang membutuhkan cara berpikir yang benar dan mendalam.

Karena itu, Dr. Otong menilai reaktualisasi tradisi hikmah sebagaimana menjadi tema OPAK tidak cukup dimaknai sebagai upaya memahami warisan pemikiran masa lalu. Tradisi tersebut harus mampu dihadirkan kembali agar dapat berdialog dengan berbagai persoalan kehidupan kontemporer, termasuk melalui pengembangan filsafat Mulla Sadra.

Ia kemudian mencontohkan perkembangan tradisi filsafat Islam di Iran. Menurutnya, Iran merupakan salah satu negara yang hingga kini terus mengembangkan tradisi filsafat Islam, termasuk pemikiran Sadrian. Perkembangan intelektual tersebut menunjukkan bahwa tradisi filsafat dapat terus hidup dan berinteraksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta persoalan masyarakat.

“Tujuan Program Studi MAFI STAI Sadra bukan untuk menjadikan Indonesia seperti Iran, tetapi supaya bagaimana cara sebuah tradisi intelektual dihidupkan kembali untuk menghadapi persoalan zamannya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Otong juga menjelaskan tiga kata kunci yang menjadi penekanan dalam tema OPAK, yakni kritis, reflektif, dan transformatif. Sikap kritis berarti berani mempertanyakan sesuatu secara mendalam. Sikap reflektif berarti mampu memeriksa diri sekaligus menguji dasar-dasar pemikiran yang dimiliki. Sementara sikap transformatif berarti membawa hasil pemikiran ke dalam kehidupan nyata.

Menurutnya, ketiga sikap tersebut memiliki hubungan erat dengan filsafat yang akan dipelajari mahasiswa baru MAFI. Filsafat tidak berhenti pada aktivitas memahami teori, tetapi harus mampu menjadi cara untuk membaca, memahami, dan merespons persoalan kehidupan. “Makna reaktualisasi tradisi hikmah adalah berakar pada tradisi, berdialog dengan ilmu, dan hadir untuk menjawab zaman,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi MAFI STAI Sadra, Dr. Benny Susilo, Ph.D., memperkenalkan karakter akademik, kurikulum, serta profil lulusan MAFI kepada mahasiswa baru. Penjelasan tersebut diberikan untuk memberikan gambaran mengenai kompetensi yang dapat dikembangkan sekaligus peluang yang dapat ditempuh mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan di MAFI.

Dalam pemaparannya, Dr. Benny menjelaskan bahwa salah satu karakter yang membedakan MAFI STAI Sadra dari program studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam lainnya terletak pada penekanannya terhadap pendalaman dan penggalian sumber-sumber autentik filsafat Islam klasik dan teologi klasik. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik MAFI sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap khazanah pemikiran Islam.

Dalam filsafat Islam, mahasiswa akan mempelajari tiga arus besar, yakni Peripatetik, Iluminasi, dan Hikmah Muta’aliyah. Sementara dalam bidang irfan atau tasawuf, mahasiswa diperkenalkan pada irfan teoretis dan irfan praktis. Dalam ilmu kalam atau teologi klasik, mahasiswa akan berhadapan dengan beragam khazanah pemikiran, antara lain Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah, Syiah, dan Salafi. Berbagai tradisi pemikiran tersebut dipelajari dan dianalisis secara rasional sebagai bagian dari kekayaan intelektual Islam,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, keragaman latar belakang pendidikan mahasiswa baru tidak menjadi hambatan dalam mengikuti perkuliahan. Kurikulum MAFI dirancang agar mahasiswa memperoleh fondasi pengetahuan yang relatif sama sebelum menentukan bidang yang diminati untuk penelitian dan tugas akhir.

“Dari latar belakang pendidikan apa pun, mahasiswa baru akan dibekali dengan pengetahuan yang sama. Sampai nanti pada tugas akhir, mereka bisa memilih konsentrasi sesuai minat mereka. Sejumlah pilihan konsentrasi yang dapat dikembangkan mahasiswa antara lain filsafat murni, ilmu kalam, filsafat pendidikan, filsafat Al-Qur’an, filsafat politik, filsafat jiwa, serta bidang kajian lainnya ,” pungkas Dr. Benny.

Selain memperkenalkan profil dan kurikulum program studi, kegiatan OPAK juga membekali mahasiswa baru dengan informasi teknis mengenai proses akademik dan administrasi selama menempuh pendidikan di Program Studi MAFI STAI Sadra.

Pengenalan dosen Program Studi MAFI disampaikan oleh Dr. Hadi Kharisman, M.Ud., selaku Wakil Program Studi. Sementara itu, materi mengenai proses akademik dan administrasi disampaikan oleh Wahyudi Tianotak, MA. Materi tersebut mencakup berbagai prosedur penting yang perlu diketahui mahasiswa, mulai dari alur registrasi akademik, permohonan surat-menyurat dan perizinan, herregistrasi, pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) dan Kartu Hasil Studi (KHS), hingga pengurusan transkrip nilai dan administrasi ijazah.

Mahasiswa baru juga mendapatkan penjelasan mengenai alur rencana penelitian dan tugas akhir yang disampaikan Basrir Hamdani, Ph.D., serta alur administrasi keuangan yang disampaikan Nur Mahdyah Zahra, S.E.

Melalui OPAK tersebut, mahasiswa baru MAFI STAI Sadra tidak hanya diperkenalkan pada sistem akademik dan administrasi kampus, tetapi juga diarahkan untuk memahami karakter keilmuan yang menjadi identitas program studi. Reaktualisasi tradisi hikmah diharapkan menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan transformatif dalam membaca persoalan keislaman dan kehidupan kontemporer.

 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top