Perlawanan terhadap Hegemoni Global: Gagasan Ayatullah Khamenei Menggema di Seminar Internasional STAI Sadra

Sadranews- STAI Sadra bekerja sama dengan Sadra International Institute, Al-Mustafa International University, Al-Mustafa Open University dan Ponpes Al-Qur’an Al-Mustafa menyelenggarakan seminar internasional bertema “Kiprah dan Pemikiran Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei” yang dirangkai dengan agenda pengumuman pemenang Lomba Karya Ilmiah dan Sayembara Video “Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei” di Auditorium Al Mustafa, Kamis (21/5/2026) siang.

Sekitar 370 peserta hadir baik secara langsung maupun daring melalui Zoom. Seminar ini menghadirkan sejumlah tokoh lintas organisasi Islam dan akademisi nasional seperti Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA (Ketua PP Muhammadiyah), KH. Kholili Kholil, MA (Pengurus Besar Nahdatul Ulama Lembaga Bahtsul Masail) dan Dr. Abdelaziz Abbaci, MA (Direktur Sadra International Institute) dengan moderator Dr. Benny Susilo, Ph.D (Kaprodi MAFI STAI Sadra).

Ketua STAI Sadra, Dr. Otong Sulaeman dalam sambutannya menilai dunia modern sedang menghadapi krisis multidimensi: geopolitik, energi, kemanusiaan, hingga disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang tidak diimbangi kedewasaan moral manusia.

Menurutnya, generasi muda kini mengalami kekosongan makna hidup di tengah derasnya arus media sosial dan budaya digital. Dalam konteks itulah, ia memandang sosok Ayatullah Ali Khamenei relevan untuk dikaji. Beliau bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga ulama, filsuf, mufasir, dan sastrawan yang menawarkan perspektif spiritual dalam menghadapi problem kemanusiaan modern.

“Pemikiran Ayatullah Khamenei dipandang lahir dari tradisi panjang filsafat Islam Iran yang menempatkan ilmu, moralitas, dan integritas sebagai fondasi kepemimpinan. Dalam sistem Republik Islam Iran, legitimasi seorang pemimpin tidak hanya bertumpu pada kekuatan politik, tetapi juga kedalaman ilmu agama dan kualitas akhlak, “ ujarnya.

Prof. Syafiq mencoba menempatkan sosok Ayatullah Ali Khamenei dalam lanskap sejarah dunia Islam modern. Ia mengaku ketertarikannya pada Iran bermula sejak Revolusi Iran 1979, yang menurutnya menjadi simbol kebangkitan dunia Islam melawan dominasi Barat.

Dalam paparannya, Prof. Syafiq menyebut Ayatullah Ali Khamenei sebagai figur langka di dunia modern: seorang ulama yang sekaligus filosof, intelektual, dan negarawan.

“Di tengah banyaknya pemimpin yang lahir dari populisme dan kekuatan modal, Khamenei memiliki legitimasi intelektual, spiritual, moral, sekaligus politik,” katanya.

Namun lebih jauh dari itu, Prof. Syafiq menilai inti pemikiran Ayatullah Ali Khamenei terletak pada gagasan keadilan dan perlawanan terhadap hegemoni global. Benang merah itu, terlihat jelas dalam sikap konsisten Iran terhadap isu Palestina.

“Bagi Khamenei, Palestina bukan sekadar konflik teritorial, melainkan simbol perjuangan melawan kolonialisme, penindasan, dan ketidakadilan internasional. Karena itu, dukungan terhadap Palestina diposisikan sebagai tanggung jawab moral dan kemanusiaan dunia Islam,” tandasnya.

Dalam forum tersebut, para pembicara menilai sikap keras Ayatullah Khamenei terhadap Israel lahir dari pandangan ideologis tentang pentingnya membela kaum tertindas di berbagai belahan dunia.

Pendekatan yang lebih personal dan reflektif disampaikan KH. Kholili Kholil. Dengan gaya santai khas pesantren, ia memandang komunitas Syiah sebagai bagian dari khazanah besar intelektual dan spiritual umat Islam. Ia juga menyoroti konsistensi Khamenei dalam menyuarakan isu Palestina dan Gaza di tengah banyaknya pemimpin dunia Islam yang memilih diam.

Ia bahkan mengisahkan pengalamannya saat mendengar slogan “Mampus Amerika” dan “Mampus Israel” yang sering diteriakkan masyarakat Iran. Awalnya ia merasa terkejut. Namun setelah melihat kehidupan masyarakat Iran, ia memahami bahwa slogan tersebut bukan ditujukan kepada individu atau agama tertentu, melainkan bentuk perlawanan terhadap sistem hegemoni global yang dianggap menindas bangsa-bangsa lemah, termasuk Palestina.

Dalam suasana penuh humor dan cair, KH. Kholili juga memuji STAI Sadra sebagai ruang dialog antarmazhab yang sehat. Ia menyebut banyak mahasiswa kampus tersebut justru berasal dari kalangan Ahlussunnah, sesuatu yang menurutnya penting untuk membangun saling pengertian di tengah polarisasi umat.

Sementara itu, Dr. Abbaci membawa diskusi ke arah yang lebih konseptual: bagaimana pemikiran Ali Khamenei berbicara tentang proyek besar pembangunan peradaban Islam modern. Kekuatan Iran modern tidak dibangun hanya lewat politik dan militer, tetapi melalui pembangunan manusia, budaya ilmu, dan kemandirian teknologi.

Ia menjelaskan bahwa Ayatullah Khamenei menempatkan moralitas, agama, pendidikan, dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kebangkitan umat. Karena itu, perjuangan melawan dominasi global tidak cukup dilakukan melalui retorika politik, tetapi harus diwujudkan melalui reformasi pendidikan dan pembangunan kualitas manusia.

“Dalam pandangan Khamenei, sebuah bangsa tidak akan benar-benar merdeka jika masih bergantung secara teknologi kepada negara lain. Karena itu, isu Palestina dipandang bukan hanya persoalan perang dan pendudukan, melainkan bagian dari perjuangan membangun kemandirian peradaban umat Islam,” ungkapnya.

Video reflektif yang diputar di akhir seminar menegaskan pemikiran Ayatullah Ali Khamenei tentang pentingnya ilmu pengetahuan, budaya, peran perempuan, dan ketahanan ideologi dalam membangun masyarakat yang kuat. Dalam pandangannya, perempuan merupakan fondasi lahirnya peradaban.

Seminar ini juga menunjukkan bahwa isu Palestina tetap hidup di tengah kesadaran banyak kalangan Muslim Indonesia, dengan Ayatullah Ali Khamenei dipandang sebagai salah satu tokoh yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Seminar ini dimeriahkan dengan acara penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba karya ilmiah dan sayembara video bertajuk “Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei”. Satu per satu para juara dipanggil ke atas panggung untuk menerima penghargaan di tengah apresiasi para peserta seminar.

Acara seminar ditutup dengan membaca doa bersama yang diikuti seluruh peserta dan berlangsung khidmat dipandu oleh Abdullah Beik, MA.

 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top