Soroti Ancaman Ateisme Modern dan Pentingnya Nalar Filosofis, STAI Sadra Gelar Webinar AFI

Sadranews– Kemajuan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan belajar, tetapi juga memengaruhi cara berpikir, meyakini kebenaran, hingga menjalankan agama. Fenomena inilah yang menjadi sorotan dalam webinar bertajuk “Masa Depan Akidah di Era Gadget: Menghadapi Tantangan Ateisme Modern” yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra melalui Zoom Meeting, Jumat (31/7/2026).

Webinar yang dimulai pukul 09.00 WIB itu menghadirkan Ketua Program Studi Akidah dan Filsafat Islam STAI Sadra, Abdullah Abdul Kadir, M.A., sebagai narasumber yang dimoderatori oleh Atifa Zahra, S.Ag. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa, dosen, orang tua, dan masyarakat umum yang juga memperoleh e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Membuka acara, moderator menegaskan bahwa perkembangan AI telah menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan beragama. Menurutnya, kemajuan teknologi membuat banyak orang kembali mempertanyakan realitas, identitas, bahkan makna hidup. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana akidah Islam mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Menanggapi hal itu, Abdullah Abdul Kadir mengawali pemaparannya dengan mengutip Surah Thaha ayat 132 yang memerintahkan umat Islam menegakkan salat dalam keluarga disertai kesabaran. Ia menjelaskan bahwa bentuk kata yang digunakan dalam ayat tersebut menunjukkan makna kesabaran yang lebih kuat, karena menjaga nilai-nilai agama di lingkungan keluarga memang selalu menjadi tantangan, terlebih pada era digital yang dipenuhi berbagai pengaruh.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar terhadap akidah sebenarnya telah muncul jauh sebelum era internet, yakni berkembangnya cara pandang positivisme yang hanya mengakui kebenaran berdasarkan sesuatu yang dapat diamati secara material.

Ia mencontohkan kisah kaum Nabi Musa dalam Al-Qur’an yang menolak beriman sebelum dapat melihat Allah secara langsung. Pola pikir semacam itu, katanya, masih terus berkembang hingga kini dan mendorong sebagian orang menilai ibadah tidak memiliki manfaat karena hasilnya tidak dapat dibuktikan secara kasat mata. “Ketika segala sesuatu diukur hanya dengan apa yang terlihat, maka nilai-nilai spiritual perlahan dianggap tidak penting,” ujarnya.

Fenomena tersebut, lanjut Abdullah Abdul Kadir, bukan lagi sekadar kajian teoritis. Ia mengungkapkan bahwa jumlah orang yang menyatakan diri sebagai ateis maupun agnostik terus meningkat, termasuk di sejumlah negara yang selama ini dikenal memiliki tradisi keagamaan kuat. Gejala serupa juga mulai ditemuinya di lingkungan sekitar melalui keluhan para orang tua yang mendapati anak-anak mereka enggan melaksanakan salat atau mulai mempertanyakan ajaran agama.

Perkembangan AI, media sosial, dan algoritma digital dinilai semakin mempercepat perubahan tersebut. Abdullah menceritakan pengalaman ketika seseorang meminta penjelasan mengenai hukum agama, namun kemudian membandingkannya dengan jawaban AI dan lebih mempercayai teknologi tersebut.

Menurutnya, fenomena bergesernya otoritas keilmuan dari ulama dan kitab rujukan menuju mesin pencari berbasis AI merupakan tantangan besar yang harus dihadapi dunia pendidikan Islam.

“Persoalannya bukan sekadar AI bisa menjawab pertanyaan, tetapi ketika AI mulai dijadikan ukuran utama dalam menentukan kebenaran,” katanya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Abdullah Abdul Kadir menjelaskan bahwa Program Studi Akidah dan Filsafat Islam STAI Sadra dirancang untuk membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat fondasi keislaman mahasiswa melalui empat pilar utama, yakni Logika, Ilmu Kalam, Filsafat Islam, dan Filsafat Barat.

Mata kuliah Logika membekali mahasiswa dengan metode berpikir yang sistematis melalui pembahasan silogisme, deduksi, dan induksi sehingga mampu mengenali kesalahan berpikir (fallacy), menyaring informasi, serta tidak mudah terpengaruh popularitas seseorang tanpa dasar argumentasi yang kuat.

Sementara itu, Ilmu Kalam memperkenalkan mahasiswa pada berbagai mazhab teologi Islam, mulai dari Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Salafi, hingga Syiah dengan mengkaji langsung literatur klasik maupun kontemporer.

Keunggulan lain yang menjadi ciri khas STAI Sadra, menurutnya, adalah penguatan kajian Filsafat Islam. Mahasiswa diajak mendalami pemikiran para filsuf Muslim dari berbagai zaman, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Mulla Sadra, Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Murtadha Muthahhari, hingga Muhammad Husain Thabathaba’i.

Berbagai persoalan mendasar, mulai dari hakikat wujud, gradasi eksistensi, hubungan sebab-akibat, epistemologi, hingga relasi Tuhan, manusia, dan alam dikaji secara komprehensif. Pembelajaran tersebut diperkaya dengan kajian Filsafat Barat, dari Socrates hingga para pemikir modern, sehingga mahasiswa mampu memahami sekaligus mendialogkan berbagai tradisi pemikiran secara objektif.

Abdullah Abdul Kadir menilai penguasaan filsafat justru menjadi benteng penting untuk mencegah lahirnya sikap ekstrem, radikal, maupun takfiri. Menurutnya, mahasiswa yang terbiasa berpikir filosofis akan lebih terbuka terhadap perbedaan, menghargai argumentasi, dan tidak mudah mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal.

Ia juga menyoroti kualitas karya ilmiah mahasiswa STAI Sadra yang dinilai mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain. Sejumlah skripsi mahasiswa bahkan mengkaji secara komparatif pemikiran Jean-Paul Sartre, Ludwig Wittgenstein, Immanuel Kant, hingga Muhammad Iqbal dengan kedalaman analisis yang, menurut beberapa dosen tamu, setara dengan tesis pada jenjang magister.

Dalam sesi diskusi, Ellya Verawati, dosen di salah satu perguruan tinggi umum sekaligus alumnus STAI Sadra, menanyakan penyebab menurunnya minat belajar mahasiswa di tengah kemudahan akses informasi saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Abdullah mengutip data UNESCO yang menunjukkan Indonesia termasuk lima besar negara dengan kepemilikan gawai terbanyak, namun masih berada pada peringkat bawah dalam minat membaca.

Ia menawarkan beberapa langkah sederhana untuk membangun budaya literasi, di antaranya menjadikan buku teks sebagai bacaan wajib di kelas, memberikan tugas berbasis sumber primer, membentuk kelompok diskusi dan membaca secara bergilir, serta membiasakan membaca sedikitnya dua jam setiap hari sebagai investasi intelektual jangka panjang.

Menutup webinar, Abdullah Abdul Kadir menegaskan bahwa kajian Akidah dan Filsafat Islam bukanlah disiplin ilmu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, pemahaman akidah yang kuat dan cara berpikir filosofis menjadi fondasi penting dalam menghadapi persoalan pribadi, kehidupan sosial, hingga dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Webinar kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama serta penyampaian apresiasi dari moderator kepada seluruh peserta yang telah mengikuti diskusi hingga selesai.

 

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top