Sadranews–Suasana duka dan refleksi mewarnai seminar bertajuk “Bangsa yang Mengingat” yang digelar STAI Sadra secara hybrid di Auditorium Al Mustafa, Kamis (13/9/2026) siang. Kegiatan yang dihadiri staf, dosen, mahasiswa, dan tamu undangan itu tidak sekadar menjadi ruang untuk membicarakan sebuah peristiwa, tetapi juga mengajak peserta melihat bagaimana ingatan, keyakinan, kebudayaan, dan pengalaman sejarah dapat membentuk keteguhan sebuah bangsa.
Seminar yang dimoderatori oleh Abdullah Abdul Kadir, MA tersebut sekaligus dirangkai dengan peluncuran buku karya Ketua STAI Sadra, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., dengan judul yang sama. Buku itu menjadi pintu masuk untuk memahami Iran bukan hanya dari kekuatan militer atau politiknya, tetapi dari lapisan yang lebih dalam: budaya, sastra, filsafat, spiritualitas, dan memori kolektif.
Dalam sambutannya mewakili Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa, Dr. Hasyim Adnani menyoroti konflik Iran dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Menurutnya, persoalan tersebut tidak sesederhana identitas Syiah, melainkan berkaitan dengan sikap politik Iran terhadap ketidakadilan, dominasi, dan penindasan.
Ia mengingatkan bahwa pada era Syah Pahlevi, misalnya, Iran tetap memiliki hubungan harmonis dengan Amerika Serikat meskipun sang penguasa berasal dari latar belakang Syiah. Karena itu, Hasyim menilai posisi politik Iran dalam menghadapi dominasi dan penindasan menjadi salah satu kunci untuk memahami konflik yang berlangsung.
“Upaya untuk melemahkan Iran melalui terbunuhnya pemimpin tertinggi justru menghasilkan dampak yang berlawanan. Rakyat Iran disebut semakin solid dan bersatu. Pada saat yang sama, berbagai kebijakan dan tindakan yang dinilai merugikan justru semakin mendapat sorotan publik, termasuk di Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Situasi tersebut turut membuka ruang bagi meningkatnya ketertarikan terhadap Islam, terutama di kalangan anak muda,” tegasnya.
Memasuki sesi peluncuran buku, Dr. Otong Sulaeman membawa peserta pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang membuat Iran mampu bertahan dan bangkit setelah berulang kali menghadapi tekanan dan episode kelam dalam sejarahnya?
Jawabannya, menurut Dr. Otong, tidak cukup dicari dari jumlah rudal, kekuatan militer, atau kemampuan politik. Ia mengajak pembaca melihat peran ingatan kolektif dalam membentuk ketahanan sebuah bangsa. Kisah Karbala dan pemikiran filsafat Mulla Sadra, misalnya, memang tidak secara langsung mampu menjatuhkan pesawat atau membangun rudal. Namun, keduanya dapat membentuk sesuatu yang mendahului kekuatan material.
“Memori melahirkan makna. Makna kemudian membentuk identitas, identitas menumbuhkan emosi moral, dan emosi moral menguatkan kehendak. Ketika kehendak itu diorganisasikan melalui institusi, ia dapat berubah menjadi tindakan dan kemampuan material. Ketahanan tersebut kemudian melahirkan memori baru yang diwariskan kepada generasi berikutnya, ujarnya.
Bagi Dr. Otong, Iran hanya menjadi studi kasus. untuk melihat bagaimana pengalaman pahit tidak selalu berakhir sebagai trauma. Luka sejarah dapat diolah menjadi makna, lalu berkembang menjadi energi untuk bangkit. Di sinilah memori menempati posisi penting dalam membentuk ketahanan sebuah masyarakat. Buku tersebut juga merupakan ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk bertanya mengenai kekayaan “perpustakaan batin” bangsa sendiri: seberapa kuat ingatan, nilai, kisah, dan gagasan yang kita miliki ketika menghadapi krisis.
Pertanyaan itu kemudian diperdalam Ahmad Hafidh Alkaf, MA, melalui perspektif spiritual. Ia mengajak peserta menyelami makna kesyahidan Sayyid Ali Khamenei dan besarnya kecintaan masyarakat kepada sang pemimpin. Hal itu, menurutnya, tercermin dalam prosesi pemakaman yang dihadiri puluhan juta atau lautan manusia.
Ia juga membagikan pengalaman emosional ketika pertama kali menerima kabar syahadah tersebut. Ia mengaku sempat menolak mempercayainya hingga akhirnya harus menerima kenyataan dengan derai air mata. Baginya, peristiwa tersebut bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin, melainkan lahirnya warisan perjuangan berupa khittah, jalan perlawanan, dan keberanian untuk menentukan sikap dalam pergumulan antara kebenaran dan kebatilan.
Dari perspektif geopolitik dan ideologi, Dr. Muhsin Labib mengurai perjalanan kemandirian Iran sejak revolusi di bawah kepemimpinan Imam Khomeini. Menurutnya, pilihan Iran untuk membangun kedaulatan sendiri dalam sistem pemerintahan wilayatul faqih yang tak tergoyahkan, membuat negara tersebut berhadapan dengan sistem hegemoni unipolar global. Sanksi dan berbagai tekanan kemudian datang dengan tujuan agar Iran tidak menjadi contoh kebangkitan bagi bangsa lain.
Dalam konteks itu, tradisi Karbala memiliki posisi penting. Karbala bukan hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai simbol keberanian, kesetiaan, pengorbanan, dan perlawanan terhadap penindasan. Karena itu, ketika sang pemimpin gugur, kedukaan justru berubah menjadi konsolidasi. Gelombang masyarakat yang datang memberikan penghormatan menunjukkan kuatnya ikatan emosional dan spiritual antara rakyat dengan pemimpinnya.
“Tumpahnya darah Sayyid Ali Khamenei lah yang pada akhirnya membuat Iran kokoh berdiri; sebuah ketangguhan yang berakar pada cinta dan hati, bukan sekadar kelengkapan perangkat persenjataan seperti rudal semata,” tegasnya.
Sementara itu, Ammar Fauzi, Ph.D., mengulas tema lewat kacamata filsafat. Ia menempatkan Sayyid Ali Khamenei sebagai figur keteladanan dalam memahami jati diri dan makna perjuangan. Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup dinilai dari jabatan atau retorika, tetapi dari kesediaannya menanggung risiko dan penderitaan bersama rakyat.
Ia menyebut Ali Khamenei telah menjalani kehidupan seorang syahid jauh sebelum kematiannya. Kesyahidan, dalam pandangannya, bukan hanya mengenai bagaimana seseorang meninggal, tetapi bagaimana ia menjalani hidup dengan keberanian mengabdi dan berkorban.
“Kecintaan Sayyid Ali Khamenei kepada bangsanya sebagai “cinta mati” bukan cinta buta, melainkan kecintaan yang mendorong perjuangan tanpa pamrih. Dari sana, ia menegaskan tiga fondasi kekuatan bangsa: iman, cinta, dan pembangunan. Iman memberikan keteguhan, cinta melahirkan keberanian berkorban, sementara pembangunan menghadirkan kekuatan nyata agar bangsa mampu berdiri sendiri,” ungkapnya.
Pengalaman Iran, menurutnya perlu dipelajari tentang bagaimana semangat membangun bangsa yang mandiri, kuat, dan berdaulat. Kemerdekaan tidak berhenti pada wilayah dan simbol kenegaraan, tetapi juga kemampuan menentukan keputusan sendiri, membangun kekuatan nasional, serta tidak mudah didikte pihak lain. Pelajaran terpentingnya adalah bagaimana Indonesia tetap teguh ketika ditekan, sabar ketika diuji, berani ketika diancam, dan terus membangun kekuatan nasional. Sehingga menemukan keberanian menjadi Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat.

